Purbayafikasi
Ketika Menteri Keuangan Menjadi Pesan Itu Sendiri
Oleh: EDHI ARUMAN
JUMAT kemarin saya menguji seorang mahasiswa S2 LSPR yang mempertahankan tesis tentang Purbaya Yudhi Sadewa. Judulnya menarik: “The Purbaya Effect.”
Sehari sebelumnya, saya menerima laporan media monitoring dari Ivosights yang juga membedah Purbaya, tetapi dari jendela berbeda. Bukan sekadar apa yang dilakukan Menteri Keuangan, melainkan bagaimana ia berbicara, bagaimana publik merespons, dan bagaimana percakapan digital membangun reputasinya.
Dua bahan itu datang hampir bersamaan. Yang satu dari ruang akademik, yang lain dari riuh media sosial, tetapi keduanya membawa saya pada satu kesimpulan: Purbaya bukan lagi sekadar Menteri Keuangan. Purbaya sudah menjadi medium.
Marshall McLuhan pernah mengatakan, the medium is the message. Dalam politik hari ini, mungkin tesis itu perlu diperpanjang: kadang-kadang orangnya sendiri telah menjadi pesan.
Purbaya adalah contoh menarik. Ia bukan teknokrat yang nyaman bersembunyi di balik tabel Excel, terminologi fiskal, dan kalimat steril yang sudah disisir staf komunikasi agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Purbaya bicara dan terkadang terlalu terus terang. Kadang nyelekit, membuat publik tertawa, membuat pasar memperhatikan, dan mungkin sesekali membuat stafnya ingin berbisik: “Pak, yang itu sebenarnya tidak perlu diucapkan.”
Tetapi justru di situlah Purbaya Effect bekerja. Ia membuat sesuatu yang abstrak bernama kebijakan ekonomi memperoleh wajah, suara, dan karakter.
Tesis yang saya uji menunjukkan bahwa media tidak semata-mata memberitakan kebijakan Purbaya. Media ikut mengonstruksi Purbaya sebagai bagian dari cerita ekonomi: mula-mula teknokrat baru pembawa harapan, kemudian aktor utama kebijakan yang tegas, lugas, responsif, dan aktif menjelaskan arah ekonomi.
Ini penting karena dalam ekonomi modern yang diperdagangkan bukan hanya saham, obligasi, rupiah atau dolar. Ekspektasi juga diperdagangkan, dan ekspektasi hidup dari cerita.
EKONOMI ADALAH ANGKA. KEPERCAYAAN ADALAH CERITA.
Kita sering menganggap pekerjaan Menteri Keuangan adalah mengurus APBN, pajak, belanja, defisit dan utang. Benar, tetapi ada satu hal yang jauh lebih rapuh daripada semua angka itu: kepercayaan.
Satu kalimat Menteri Keuangan dapat dibaca pengusaha sebagai sinyal, investor sebagai risiko, politisi sebagai posisi, masyarakat sebagai harapan, dan media sebagai judul berita. Karena itu komunikasi ekonomi bukan aksesori kebijakan; ia adalah bagian dari kebijakan itu sendiri.
Melalui priming dan framing, media terus mempertemukan figur Purbaya dengan kebijakan, indikator ekonomi, respons pasar, risiko, dan harapan. Pelan-pelan APBN mempunyai wajah, kebijakan fiskal mempunyai suara, dan keduanya semakin diasosiasikan dengan satu nama: Purbaya.
Itu aset komunikasi yang luar biasa besar. Tetapi justru di situlah bahayanya.
Bahaya terbesar Purbaya mungkin bukan ketika publik tidak percaya kepadanya. Bahayanya justru ketika publik terlalu percaya kepada Purbaya sehingga kredibilitas kebijakan negara bergantung pada kredibilitas satu orang.
KETIKA MENTERI KEUANGAN MASUK ATTENTION ECONOMY
Monitoring Ivosights selama Juli 2026 mencatat sekitar 24 ribu percakapan mengenai Purbaya dari sekitar 10 ribu authors, menghasilkan lebih dari 13,3 juta engagement. Angka itu memperlihatkan bahwa Menteri Keuangan kini ikut bertarung di arena yang biasanya ditempati politisi, selebritas dan influencer: attention economy.
Di arena ini hukumnya kejam. Yang paling akademis belum tentu paling didengar, sementara yang paling lengkap sering kalah dengan yang paling mudah dipotong menjadi video 30 detik.
Purbaya mempunyai sesuatu yang jarang dimiliki teknokrat: quotability. Bahasanya mudah dikutip, ekspresinya mudah dipotong, kalimatnya mudah menjadi headline, dan personality-nya mampu menembus kerumitan ekonomi.
Itu kekuatan. Tetapi di titik tertentu kita harus bertanya: apakah kebijakan sedang dijelaskan kepada publik, atau mulai disederhanakan untuk memenangkan perhatian publik?
Batasnya tipis, tetapi konsekuensinya besar. Tugas Menteri Keuangan bukan membuat ekonomi terlihat sederhana, melainkan membuat kompleksitas ekonomi dapat dipahami tanpa memalsukan kompleksitasnya.
AUTENTIK BUKAN BERARTI BEBAS DARI PRESISI
Monitoring gaya komunikasinya memperlihatkan kombinasi pendekatan informatif dengan karakter friendly, relaxed, sekaligus dominant. Kombinasi ini membuat otoritas teknokratik Purbaya tidak otomatis menciptakan jarak dengan audiens digital.
Di situlah kekuatannya. Publik tidak selalu membutuhkan pejabat yang mempunyai jawaban untuk segala hal, tetapi pejabat yang membuat mereka yakin: “Orang ini tahu apa yang sedang dia kerjakan.”
Namun autentisitas mempunyai jebakan. Semakin seseorang dianggap autentik, semakin mudah ketidakpresisian dimaafkan dengan kalimat: “Ya, memang Purbaya begitu.”
Padahal standar terhadap Menteri Keuangan justru harus lebih tinggi. Presisi bukan musuh autentisitas, dan spontanitas bukan dispensasi bagi ketidakakuratan.
Semakin besar mikrofon seseorang, semakin besar pula tanggung jawab setiap kalimatnya. Apalagi ketika kalimat itu dapat memengaruhi persepsi tentang ekonomi sebuah negara.
VIRAL BUKAN BERARTI BENAR
Godaan terbesar pejabat populer adalah mengira popularitas sebagai legitimasi. Padahal popularitas hanya membuktikan orang memperhatikan kita, bukan bahwa mereka mempercayai kita—apalagi membuktikan kebijakan kita benar.
Viral bukan berarti benar, engagement bukan berarti trust, dan sentimen positif bukan ukuran keberhasilan APBN. Algoritma mengukur perhatian; negara harus mengukur akibat.
Karena itu spontanitas Purbaya adalah pedang bermata dua. Ketika tepat, ia terasa sebagai keberanian; ketika meleset, ia bisa menjadi liability, terutama ketika menyentuh pasar, hubungan antar-lembaga, atau isu yang membutuhkan presisi tinggi.
Influencer hidup dari perhatian. Menteri Keuangan hidup dari kredibilitas. Kalau influencer salah bicara, ia mungkin kehilangan followers; kalau Menteri Keuangan salah memberikan sinyal, yang bergerak bisa ekspektasi ekonomi.
Keberanian berbicara karena itu belum cukup. Keberanian komunikasi baru bernilai ketika disertai keberanian menerima koreksi, mengakui kekeliruan, dan mempertanggungjawabkan akibat.
MASALAHNYA BUKAN HANYA PURBAYA. MASALAHNYA ADALAH INSTITUSI.
Di sinilah Purbaya Effect perlu dibaca satu tingkat lebih dalam. Pertanyaannya bukan lagi apakah Purbaya komunikator efektif, tetapi apa yang terjadi ketika kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi semakin dipersonalisasi kepada seorang Menteri Keuangan?
Personalisasi memang membuat negara lebih mudah berkomunikasi karena manusia lebih mudah dipercaya daripada institusi abstrak. Tetapi semakin besar kepercayaan ditempelkan kepada seseorang, semakin besar risiko ketika orang itu salah, kehilangan kredibilitas, atau suatu hari meninggalkan jabatan.
Negara yang sehat membutuhkan Menteri Keuangan yang kredibel. Tetapi negara yang terlalu membutuhkan kredibilitas pribadi Menteri Keuangannya justru sedang menunjukkan kelemahan institusional.
Karena itu keberhasilan terbesar Purbaya bukan apabila publik semakin percaya kepada Purbaya. Keberhasilannya adalah ketika kepercayaan personal tersebut dapat ditransfer menjadi kepercayaan terhadap Kementerian Keuangan, tata kelola fiskal, dan negara.
Figur datang dan pergi. Institusi harus tetap dipercaya.
UJIAN TERAKHIR ADALAH KENYATAAN
Pada akhirnya reputasi Menteri Keuangan tidak ditentukan oleh berapa banyak videonya viral atau seberapa tinggi engagement-nya. Ujian sesungguhnya jauh lebih keras: ekonomi bagaimana, lapangan kerja bagaimana, daya beli bagaimana, rupiah bagaimana, dan apakah pertumbuhan benar-benar terasa sampai ke meja makan?
Di depan pertanyaan itu, seluruh kecanggihan komunikasi harus tunduk kepada kenyataan. Narasi harus bertemu angka, dan angka harus bertemu kehidupan.
Komunikasi dapat membeli waktu, menjelaskan kebijakan, mengurangi ketidakpastian, bahkan memulihkan kepercayaan. Tetapi komunikasi tidak boleh dipakai untuk membuat kegagalan kebijakan terlihat seolah-olah hanya kegagalan publik dalam memahaminya.
Itulah garis yang penting. Ketika kebijakan berhasil, komunikasi membantu publik memahami keberhasilan; ketika kebijakan gagal, komunikasi seharusnya membantu pemerintah memahami kegagalan—bukan sekadar memenangkan narasi.
Jumat kemarin saya masuk ruang ujian membawa sebuah tesis mahasiswa, tetapi keluar membawa pertanyaan yang lebih besar. Apakah yang sedang kita saksikan hanya Purbaya
Effect, atau perubahan dalam cara kekuasaan harus berkomunikasi di Indonesia?
Mungkin era pejabat yang merasa cukup hanya dengan bekerja memang sedang berakhir.
Pejabat hari ini harus bekerja, menjelaskan pekerjaannya, mempertahankan argumentasinya, menerima kritik, dan berani hadir dalam percakapan masyarakat.
Namun satu syarat tidak boleh ditawar. Komunikasi tidak boleh menjadi kosmetik bagi kebijakan; komunikasi harus menjadi jalan menuju akuntabilitas.
Purbaya mempunyai modal yang jarang: kompetensi teknokratik, keberanian berbicara, personality yang kuat, dan kemampuan membuat ekonomi terasa dekat. Justru karena modalnya sebesar itu, standar terhadapnya tidak boleh diturunkan hanya karena publik menyukai caranya berbicara.
Pada akhirnya vonis terhadap seorang Menteri Keuangan bukan diberikan oleh tesis, media, algoritma, ataupun engagement. Vonis itu diberikan oleh waktu dan kenyataan.
Maka ukuran The Purbaya Effect bukan seberapa sering Purbaya memenangkan percakapan.
Ukurannya adalah apakah ketika percakapan itu selesai, kebijakannya masih bekerja dan institusinya tetap dipercaya.
Karena keberhasilan tertinggi seorang pejabat publik bukan ketika negara membutuhkan dirinya untuk dipercaya. Justru ketika ia pergi, tetapi kepercayaan itu tidak ikut pergi.(*)


