Oleh: EDHY ARUMAN

 

PATRICK Bet-David adalah seorang pengusaha, penulis, dan pembicara motivasi asal Amerika yang dikenal luas. Kemampuannya mengemas filosofi bisnis menjadi strategi praktis yang bisa diterapkan oleh siapa saja diakui banyak orang.

Ia mendirikan PHP Agency, perusahaan pemasaran jasa keuangan yang berkembang menjadi raksasa nasional. Dia juga membangun platform media edukatif Valuetainment, yang kini menjadi sumber pembelajaran utama bagi jutaan pengusaha di seluruh dunia.
Tapi, yang paling luar biasa bukanlah prestasinya, melainkan dari mana ia memulainya.

Lahir di Teheran, Iran, pada masa perang Iran-Irak, Patrick melarikan diri bersama keluarganya ke Jerman sebelum akhirnya tiba di Amerika sebagai pengungsi.

Di negeri barunya, ia menghadapi diskriminasi, kemiskinan, dan masa remaja yang kacau. Prestasi pendidikannya nyaris tak berbuni. IPK-nya hanya 1.8, dan skor SAT-nya cuma 880.

Dalam sistem pendidikan Amerika Serikat, IPK 1.8 dan skor SAT 880 tergolong sangat rendah. IPK maksimum adalah 4.0, dan 1.8 mencerminkan nilai setara C− atau D+, atau hampir tidak lulus.

Demikian pula, Skor SAT berkisar antara 400 hingga 1600, dan 880 berada di bawah rata-rata nasional. Ini menunjukkan performa akademik Patrick lemah.

Nilai-nilai ini biasanya menjadi hambatan besar untuk masuk ke perguruan tinggi berkualitas atau meraih beasiswa.

Itu sebabnya, Patrick tak pernah kuliah empat tahun, dan hidup dari gaji sebagai penjual keanggotaan gym. Hidupnya seperti ditakdirkan untuk gagal.

Tapi ia membuktikan bahwa bukan asal-usul yang menentukan masa depan, melainkan cara berpikir dan strategi hidup yang dijalani.

Transformasi besar terjadi saat ayahnya mengalami perlakuan buruk di rumah sakit umum karena tidak mampu membayar asuransi lebih baik.

Didorong rasa malu dan frustrasi, Patrick bersumpah untuk mengubah hidupnya.

Ia menyadari bahwa kunci untuk memenangkan permainan kehidupan bukan hanya kerja keras, tetapi strategi berpikir, persis seperti dalam permainan catur.

Ia terinspirasi oleh Magnus Carlsen, grand master catur asal Norwegia yang dikenal karena kemampuannya berpikir 15 langkah ke depan. Carlsen bukan hanya bereaksi terhadap lawan; ia merancang permainan di kepalanya sebelum pertandingan dimulai, mengendalikan arah dan hasil bahkan sebelum bidak pertama bergerak.

Dalam dokumenter Magnus, Carlsen mengungkapkan bahwa mengejar puncak sering kali mengisolasi seseorang dari dunia luar. Ini suatu hal yang juga dialami oleh para CEO dan pendiri bisnis besar.

Dari catur, Patrick Bet-David mengambil filosofi kunci: jika ingin menjadi juara, Anda tidak bisa berpikir satu atau dua langkah ke depan seperti amatir. Anda harus melihat lima, sepuluh, bahkan lima belas langkah ke depan.

Pola pikir inilah yang ia formulasikan sebagai “Your Next Five Moves”, kerangka berpikir strategis yang ia tuangkan dalam bukunya dan gunakan untuk membangun kerajaan bisnisnya.

Strategi ini tidak hanya berlaku dalam ruang rapat atau negosiasi bisnis. Dalam pengasuhan anak, misalnya, memberi anak permen atau gadget saat mereka merengek mungkin membuat mereka bahagia sesaat.

Tapi berpikir lima langkah ke depan berarti membentuk karakter, mengajarkan kedisiplinan, dan membangun masa depan yang kuat.

Dalam dunia bisnis, pendekatan ini terlihat jelas pada sosok seperti Elon Musk , yang, menurut saudaranya Kimbal Musk, mampu melihat “dua belas langkah ke depan” dalam setiap keputusan.
Musk bukan hanya membangun produk; ia membangun masa depan.

Ia seperti Carlsen yang memetakan semua kemungkinan dan bergerak berdasarkan gambaran utuh dari permainan.

Patrick Bet-David menjalani prinsip ini secara radikal. Ketika memimpin PHP Agency, ia tidak segan memecat agen terlaris yang melanggar etika, meski berarti kehilangan jutaan dolar.

Mengapa? Karena dalam pikirannya, ia memproyeksikan apa yang akan terjadi lima langkah kemudian: rusaknya budaya perusahaan, menurunnya kepercayaan, dan ambruknya reputasi.

Juara catur tidak tergoda menang sesaat dengan mengorbankan posisi strategis. Begitu pula pemimpin sejati.

Pola pikir ini jugalah yang mendorongnya menemukan “samudra biru” dalam industri asuransi jiwa, yang saat itu didominasi agen kulit putih berusia lanjut.

Ia memilih menargetkan komunitas minoritas, terutama wanita Latino muda yang belum dilirik pesaing. Dengan dukungan media sosial, ia membalik industri yang stagnan menjadi medan bermain baru yang ia kuasai.

Ini bukan keberuntungan, tapi hasil dari berpikir berbeda dan berpikir jauh ke depan—seperti grand master catur melihat celah di papan yang tampak penuh.

Lebih dari itu, Bet-David percaya bahwa rasa sakit dan penolakan adalah bahan bakar utama kesuksesan. Ia mengutip kisah Barbara Corcoran, raja properti yang dibuang oleh pasangannya dengan komentar pedas, “Kamu tidak akan pernah sukses tanpa aku.”
Corcoran membuktikan sebaliknya dan menjual bisnisnya seharga $66 juta.

Atau Michael Jordan, yang mengundang orang-orang yang pernah meremehkannya ke pidato pelantikannya di Hall of Fame. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk menunjukkan bahwa rasa sakit bisa dijadikan pendorong.

Bet-David juga menekankan pentingnya mentorship strategis, membaginya dalam tiga level: Teori, Saksi, dan Aplikasi.

Ia sendiri belajar langsung dari orang-orang nyata, seperti investor legendaris Warren Buffett yang bekerja tanpa gaji untuk belajar dari Benjamin Graham, atau pelatih NBA Steve Kerr yang menjadi asisten pelatih demi membayangi kehebatan Gregg Popovich.

Dalam hidup dan bisnis, kita semua bermain di papan catur. Kita bisa menjadi amatir yang hanya bereaksi, atau kita bisa menjadi grand master yang mengendalikan permainan.

Patrick Bet-David telah membuktikan bahwa siapa pun, bahkan anak imigran dengan IPK 1.8, bisa menjadi pemain utama jika mau belajar berpikir strategis.

Pertanyaannya: Apakah kamu hanya bergerak, atau kamu sedang bermain untuk menang? (Edhy Aruman)

RUJUKAN
Bet-David, P., & Ziglar, G. (2020). Your Next Five Moves: Master the Art of Business Strategy. Simon & Schuster.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *