Tak Butuh Informasi?
“Manusia mungkin segera tak membutuhkan informasi lagi. Bukan karena dunia kekurangan berita, tetapi karena manusia sudah terlalu lelah, bingung, dan tenggelam dalam banjir informasi.”
Kemarin saya menghadiri peluncuran memoir Semar Bermalam di Kapal Induk karya Ninok Leksono di Menara Kompas, Jakarta. Acara itu terasa lebih dari sekadar peluncuran buku. Ia seperti sebuah ruang perjumpaan antara jurnalisme, kebudayaan, ilmu pengetahuan, musik, hingga refleksi tentang masa depan manusia.
Meski saya sangat sering membaca tulisan-tulisan Mas Ninok di Kompas, namun baru pertama kali bertemu, bertatap muka langsung dengan Mas Ninok. Saya sendiri memanggil Mas Ninok setelah mendapat persetujuan Mas Nino.
Suatu sore Mas Ninok WA saya. “Selamat pagi Ysh Pak Edhy Aruman..ijin mengenalkan diri saya Ninok Leksono, pensiunan wartawan Kompas. Setiap pagi saya membaca tulisan Jam 6 Teng, dan pagi ini saya baca ttg bandeng yang sangat mengesankan…..dst.”
“Selamat pagi Pak Ninok Leksono…Terima kasih Pak Ninok..” jawab saya setengah tidak percaya.
“Saya pengagum Mas — izin saya manggil Mas — Ninok. Mas Ninok bisa dengan enak dibaca menulis science sehingga mudah dipahami.. Terus terang saya iri…” jawab saya lagi.
Alhmadulillah, saya diizinkan memanggil beliau dengan “Mas.”
“Terima kasih..apakah saya juga boleh memanggil “Mas” juga ke Bapak ? Semoga ada waktu sedikit lega utk bertemu sambil minum teh sore atau lunch Pak ?” kata Mas Ninok.
Terus terang saya surprised juga di WA Mas Ninok. Dan saya akui agak minder juga. Kenapa? “Teman-teman Mas Ninok luar biasa. Ada di mana-mana dan di semua lapisan,” kata Ira Nadira, sahabat yang kemarin duduk di sdebelah saya.”
Itu memang benar adanya. Tempat acara launching buku, Studio 2 sore kemarin bertabur tokoh. Hadir Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, jurnalis Najwa Shihab, budayawan Jaya Suprana, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, penyanyi dan anggota DPR Kris Dayanti, aktris senior Widyawati, legenda musik Ernie Djohan, dan banyak tokoh lain.
Semua hadir membawa cerita masing-masing tentang sosok Ninok: wartawan, intelektual, budayawan, penggemar astronomi, sekaligus manusia yang oleh banyak pembicara disebut sebagai “polymath”.
Namun dari seluruh percakapan sore itu, ada satu kalimat yang terus tertinggal di kepala saya.
“Pada satu masa, manusia mungkin tidak lagi membutuhkan informasi. Bukan karena informasi itu langka, melainkan karena terlalu banyak informasi justru membuat orang bingung.”
Kalimat itu sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap media sosial atau dunia digital. Ia adalah diagnosis tentang krisis peradaban modern.
Selama puluhan tahun, manusia percaya bahwa semakin banyak informasi, semakin tercerahkan masyarakat. Internet dibangun atas keyakinan itu. Media sosial berkembang dengan semangat demokratisasi informasi. Semua orang bisa bicara. Semua orang bisa menjadi media. Semua orang bisa menyampaikan versi kebenarannya sendiri.
Tetapi hari ini kita melihat paradoks yang menakutkan: informasi melimpah, tetapi kejernihan menghilang.
Kita hidup dalam situasi ketika manusia tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan rangsangan. Setiap detik layar telepon kita dipenuhi notifikasi, breaking news, video pendek, opini, kemarahan, propaganda, teori konspirasi, meme, hingga potongan-potongan peristiwa yang terlepas dari konteksnya. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami.
Akibatnya, manusia modern tidak benar-benar mengetahui lebih banyak. Mereka hanya merasa mengetahui lebih banyak.
Dan dari situlah kebingungan lahir.
Dalam diskusi itu, Najwa Shihab menjelaskan bagaimana cara publik mengonsumsi informasi berubah secara radikal. Dulu orang membaca koran dengan penuh perhatian. Menonton berita malam menjadi ritual bersama. Orang memberi waktu bagi dirinya untuk memahami peristiwa.
Sekarang, kata Najwa, publik merasa cukup hanya dengan membaca headline, caption, atau potongan video beberapa detik. Orang membaca fragmen, lalu merasa menguasai keseluruhan persoalan. “Orang sekarang baca potongan sudah merasa berpikir,” kira-kira begitu kegelisahannya.
Di titik itulah informasi kehilangan kedalamannya.
Padahal dunia justru semakin kompleks.
Persoalan geopolitik, kecerdasan buatan, perubahan iklim, perang informasi, hingga polarisasi sosial membutuhkan pemahaman yang utuh. Tetapi algoritma media sosial bekerja dengan logika sebaliknya: menyederhanakan persoalan agar cepat dikonsumsi, cepat dibagikan, dan cepat memancing emosi.
Kita akhirnya hidup dalam ekonomi perhatian, bukan ekonomi pengetahuan.
Yang menang bukan yang paling benar, tetapi yang paling keras.
Bukan yang paling akurat, tetapi yang paling viral.
Karena itu, ketika seseorang berkata bahwa manusia suatu saat tidak lagi membutuhkan informasi, sesungguhnya yang dimaksud bukan manusia berhenti ingin tahu. Yang terjadi adalah manusia mengalami kelelahan mental akibat banjir informasi yang tidak tersaring.
Informasi berubah menjadi polusi psikologis.
Orang mulai menjauh dari berita bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa tidak lagi mampu membedakan mana fakta dan mana manipulasi. Mana informasi penting dan mana sekadar keributan digital.
Inilah yang membuat diskusi peluncuran buku Ninok terasa relevan dan bahkan profetik.
Sebab sore itu bukan hanya membicarakan memoir seorang wartawan senior. Yang dibicarakan sebenarnya adalah nasib jurnalisme di tengah dunia yang kehilangan orientasi.
Chappy Hakim dalam diskusi itu berbicara tentang bagaimana Ninok dan jurnalisme Kompas pernah membangun kesadaran publik soal kedaulatan udara Indonesia, terutama setelah insiden Bawean tahun 2003. Pesannya jelas: jurnalisme yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun kesadaran kolektif.
Sementara Jaya Suprana melihat Ninok sebagai sosok yang menjembatani modernitas dan kebudayaan. Simbol “Semar” dan “kapal induk” menjadi metafora penting. Semar melambangkan kebijaksanaan dan kerendahan hati, sedangkan kapal induk adalah simbol teknologi, kekuasaan, dan modernitas global.
Perjumpaan keduanya adalah pesan bahwa kemajuan teknologi tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kekacauan.
Refleksi itu terasa semakin penting di era artificial intelligence sekarang ini.
Teknologi mampu menghasilkan informasi dalam jumlah nyaris tak terbatas. AI dapat menulis, merangkum, menerjemahkan, bahkan menciptakan simulasi realitas. Tetapi pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah manusia mampu memproduksi informasi. Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih mampu memahami makna di balik informasi itu?
Karena peradaban tidak runtuh akibat kekurangan data.
Peradaban runtuh ketika manusia kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar, mana yang penting, dan mana yang bernilai.
Mungkin itu sebabnya memoir Ninok Leksono terasa lebih dari sekadar autobiografi. Ia seperti pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin bising, manusia tetap membutuhkan kejernihan. Dan tugas jurnalisme, pada akhirnya, bukan sekadar menjadi yang paling cepat menyampaikan kabar.
Melainkan menjadi penjernih di tengah kabut informasi.
Karena, ketika semua orang berbicara, yang paling dibutuhkan sebenarnya bukan tambahan suara. Melainkan seseorang yang membantu kita memahami dunia dengan lebih jernih (Edhy Aruman)


