Oleh: EDHY ARUMAN

 

Pada suatu masa, hiduplah seorang Kaisar yang sangat ingin dicintai rakyatnya. Ia percaya bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, dia harus selalu bersikap ramah.

Karena itu, ia membuat kesepakatan dengan Perdana Menterinya. “Engkau yang memberi hukuman,” kata sang Kaisar, “biarlah aku yang memberi hadiah.”

Pembagian peran ini tampak bijaksana. Kaisar merasa ia akan dicintai rakyat, sementara ketegasan tetap terjaga lewat Perdana Menteri.

Awalnya semua tampak berjalan baik. Kaisar dipuji karena kebaikannya.
Namun perlahan ia menyadari sesuatu yang aneh. Ketika ia berbicara dan meminta rakyatnya untuk mengumpulkan donasi, rakyat ragu bahkan enggan bertindak.

Sebaliknya dengan Perdana Menteri. Ketika Perdana Menteri berbicara, semua langsung bergerak. Rakyat lebih patuh kepada Perdana Menteri yang tegas daripada Kaisar yang selalu baik hati
Jadi ternyata, ketegasan memiliki kekuatan tersendiri.

Merasa kehilangan wibawa, Kaisar menukar peran. Kini ia sendiri yang menghukum. Ia kini menjadi penghukum, dan Perdana Menteri menjadi pemberi hadiah.
Hasilnya justru lebih buruk. Rakyat melihatnya sebagai sosok yang keras dan menakutkan.

Tidak sampai sebulan, Kaisar digulingkan karena dianggap kejam, sementara Perdana Menteri diangkat menjadi penguasa baru karena dianggap adil dan manusiawi.

Kisah ini mengajarkan satu pelajaran penting: ketegasan dan kebaikan tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus hadir bersama, dalam urutan yang tepat. Pemimpin tidak bisa hanya baik, dan juga tidak bisa hanya tegas. Kepemimpinan yang utuh lahir dari keseimbangan keduanya.

Pemahaman inilah yang menjadi napas dari The New One Minute Manager.

The New One Minute Manager bukanlah soal waktu. Ia bukan tentang bekerja cepat, bukan tentang semua hal harus selesai dalam satu menit, dan bukan pula tentang manajemen yang serba tergesa-gesa.
“Satu menit” adalah tentang kualitas perhatian, bukan lamanya durasi. Satu menit di sini melambangkan momen kecil yang dilakukan dengan kesadaran penuh, kejelasan tujuan, dan ketulusan terhadap manusia.

Banyak orang mengira kepemimpinan yang baik harus selalu sibuk. Rapat panjang, pengawasan ketat, laporan tebal, dan jam kerja yang melelahkan sering dianggap sebagai tanda keseriusan.
Padahal, sering kali semua itu justru membuat orang kehilangan arah.

The New One Minute Manager mengajarkan kebalikan dari anggapan tersebut. Kepemimpinan yang efektif justru hadir dalam momen-momen singkat, tetapi bermakna. Ketika tujuan dijelaskan dengan jelas, ketika usaha kecil dihargai, dan ketika kesalahan diluruskan dengan jujur namun penuh hormat.

Dalam serial drama Korea, Dynamite Kiss, Kong Ji Hyeok, sebagai pemimpin Satgas pengembangan produk Mother TF, perusahaan perlengkapan bayi, menegaskan bahwa rapat tidak boleh lebih dari satu jam. Peserta harus siap dengan proposal usulan, dan langsung ambil keputusan lalu dijalankan.

Di The New One Minute Manager, ada cerita tentang seorang pemuda yang mencari sosok manajer ideal. Ia bertemu banyak pemimpin. Ada yang keras dan penuh tekanan. Target tercapai, tetapi orang-orang kelelahan dan kehilangan semangat.

Ada pula yang terlalu baik, selalu memaklumi, namun akhirnya tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab.

Sang pemuda mulai bertanya-tanya, apakah memang harus memilih salah satu?

Jawabannya ia temukan pada seorang manajer yang tampak biasa saja. Orang ini tidak sibuk berteriak, tidak pula menghabiskan waktu mengawasi. Anehnya, timnya justru bekerja paling baik. Orang-orangnya tahu apa yang harus dilakukan, merasa dihargai, dan berani bertumbuh.

Ketika ditanya rahasianya, manajer itu menjelaskan bahwa kepemimpinan bukan soal menghabiskan banyak waktu, melainkan menggunakan waktu secara tepat.

Namun kepemimpinan tidak selalu tentang hal-hal yang menyenangkan. Kesalahan tetap terjadi. Di sinilah pendekatan One Minute Manager terasa sangat manusiawi.

Ia mengajarkan bahwa menegur tidak harus melukai. Kesalahan dibicarakan dengan jujur dan jelas, tetapi setelah itu hubungan dipulihkan. Orang diingatkan bahwa ia tetap berharga. Kesalahan tidak dijadikan cap, melainkan batu loncatan untuk belajar. Setelah teguran selesai, masalah pun selesai.

Dalam buku One Minute Manager karya Ken Blanchard dan Spencer Johnson ini, ada tokoh fiktif bernama Mr. Trenell. Dalam cerita, Mr. Trenell digambarkan sebagai karyawan yang cerdas dan berpotensi, tetapi dia masih terbiasa bergantung pada atasannya ketika menghadapi masalah.

Saat ia baru bekerja, ia sering menelepon manajernya untuk melaporkan persoalan dan berharap mendapat jawaban atau solusi langsung. Namun respons One Minute Manager justru mengejutkan. Ia tidak memberi solusi. Ia hanya mengatakan bahwa itulah alasan Trenell direkrut; untuk memecahkan masalah.

Kisah Mr. Trenell memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin membantu orang lain tumbuh dewasa. Ketika menghadapi masalah, ia tidak langsung diberi jawaban. Ia justru diajak berpikir.

Awalnya terasa tidak nyaman, tetapi lama-kelamaan ia menjadi lebih mandiri.
Pemimpin sejati bukanlah yang selalu memberi solusi, melainkan yang membuat orang lain mampu menemukan solusi sendiri.

Pada akhirnya, The New One Minute Manager mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan atau teknik canggih. Kepemimpinan adalah tentang kehadiran. Satu menit perhatian yang tulus, satu kalimat yang jelas, satu pengakuan yang jujur, bisa mengubah cara seseorang bekerja dan melihat dirinya sendiri.

Ketika manusia diperlakukan dengan hormat dan kejelasan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih utuh. Edhy Aruman

RUJUKAN
Blanchard, K. H., & Johnson, S. (2015). The new one minute manager. William Morrow.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *