Oleh: EDHY ARUMAN

 

Nama Ibnu Taimiyyah biasanya langsung dikaitkan dengan keluasan ilmu, keberanian berpendapat, dan keteguhan dalam membela keyakinan. Tetapi ada satu sisi lain yang tidak kalah penting dari hidupnya: caranya menghadapi tekanan, fitnah, permusuhan, dan penjara.
Hidupnya tidak berjalan tenang. Di balik karya-karya besar dan pengaruhnya yang luas, Ibnu Taimiyyah harus melewati masa-masa yang berat. Ia berhadapan dengan tuduhan, pertentangan keras, bahkan pemenjaraan.

Pada masa-masa akhir hidupnya, terutama antara tahun 693 hingga 728 H, ia beberapa kali dipenjara. Bukan karena perkara kriminal biasa, melainkan karena tuduhan dan perdebatan keagamaan yang tajam. Sebagian lawannya membawa perkara itu kepada penguasa, dengan tuduhan yang menyentuh wilayah agama dan syariat.
Bagi kebanyakan orang, penjara bukan hanya soal tembok dan jeruji. Penjara bisa menghabiskan tenaga, menekan pikiran, dan perlahan-lahan mematahkan harapan. Tetapi keadaan Ibnu Taimiyyah di dalam penjara justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Pada masa penahanan terakhir, Ibnu Qayyim, murid dekatnya, ikut merasakan suasana penjara bersama sang guru. Dari jarak yang sangat dekat, ia melihat bagaimana Ibnu Taimiyyah menghadapi tekanan itu. Ibnu Qayyim pernah bersaksi bahwa ia belum pernah melihat orang yang hidupnya lebih bersih, lebih lapang dadanya, dan lebih kuat hatinya daripada Ibnu Taimiyyah.
Padahal, saat itu gurunya sedang mengalami pemenjaraan, pembatasan, dan kelelahan. Anehnya, wajah Ibnu Taimiyyah justru tampak memancarkan kegembiraan.

Kesaksian itu menunjukkan satu hal penting: yang tertahan hanya tubuhnya. Hatinya tidak ikut terpenjara. Secara lahiriah ia berada di balik tembok, tetapi secara batin ia tetap merdeka. Dari keadaan seperti itulah muncul salah satu ucapannya yang terkenal:
“Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku dan tamanku ada di dalam hatiku. Ke mana pun aku pergi, keduanya selalu bersamaku dan tidak pernah berpisah dariku.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan indah. Ia memperlihatkan cara Ibnu Taimiyyah memandang penderitaan. Ia tidak membiarkan keadaan luar menguasai keadaan batinnya.

Penjara, bagi dirinya, tidak semata-mata menjadi tempat hukuman. Ia memaknainya sebagai khalwat, sebagai kesempatan untuk menyendiri bersama Allah. Bila musuh mengancamnya dengan hukuman mati, ia melihatnya sebagai jalan menuju syahid. Bila ia diasingkan dari tanah kelahirannya, ia memaknainya sebagai perjalanan.

Para lawannya mungkin merasa berhasil menahannya. Tetapi yang mereka kurung hanyalah jasadnya, bukan jiwanya.

Bahkan di dalam penjara, Ibnu Taimiyyah merasa Allah membukakan banyak pintu ilmu. Ia pernah mengatakan bahwa di dalam benteng penjara itu Allah membukakan makna-makna Al-Qur’an dan pengetahuan yang sebelumnya belum ia dapatkan. Penjara yang bagi orang lain terasa seperti hukuman, baginya berubah menjadi ruang belajar, ruang perenungan, dan ruang untuk semakin dekat kepada Allah.

Keridaannya terhadap takdir juga tampak begitu kuat. Ia bahkan melihat penjara sebagai nikmat. Ia pernah menggambarkan bahwa seandainya ia diberi emas sebesar benteng tempat ia dipenjara, semua itu belum cukup untuk membalas rasa syukurnya atas kebaikan yang Allah berikan melalui penahanan tersebut.
“Jika aku ditawari emas sebesar seluruh benteng ini, itu hanya akan setara dengan rasa syukurku atas berkah (dipenjara) ini.”

Ia menerima dengan ikhlas ketetapan Tuhannya sehingga bagianya penjara itu sebuah nikmat atau berkah. Ia tidak sanggup membalas orang-orang yang telah memenjarakannya. Kenapa? Melalui peristiwa itu ia justru mendapatkan banyak kebaikan.
“Allah telah membukakan bagiku di benteng ini akan makna-makna (yang lebih dalam) dari Al-Qur’an, dan banyak hal dari ilmu pengetahuan yang banyak dari ulama yang selama ini terhalangi.”
Sikap itu terlihat paling jelas pada tahun 709 H, ketika Ibnu Taimiyyah dibebaskan dari penjara di Mesir. Sultan Nasir, yang baru kembali ke Mesir, mengetahui keadaannya dan menyambutnya dengan penuh penghormatan.

Dalam sebuah pertemuan tertutup, Sultan memperlihatkan sejumlah fatwa yang ditulis oleh musuh-musuh Ibnu Taimiyyah. Isi fatwa itu sangat keras. Mereka bukan hanya menentangnya, tetapi juga menuntut agar ia dihukum mati. Melihat hal tersebut, Sultan Nasir marah. Ia kemudian menawarkan kepada Ibnu Taimiyyah untuk menghukum orang-orang yang telah memusuhinya. Bahkan, Sultan siap menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.

Pada saat itu, Ibnu Taimiyyah sebenarnya berada dalam posisi yang sangat kuat. Ia punya kesempatan untuk membalas. Ia punya dukungan penguasa. Dan secara manusiawi, sangat mudah baginya untuk menyetujui hukuman itu. Orang-orang yang dulu ingin mencelakakannya kini berada dalam genggamannya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Ibnu Taimiyyah menolak tawaran itu. Ia tidak ingin membalas dendam. Bahkan, ia memuji orang-orang yang memusuhinya di hadapan Sultan. Ia berkata:
“Jika mereka tidak ada, engkau tidak akan menemukan orang-orang seperti mereka di negerimu. Adapun mengenai hakku dan diriku sendiri, maka aku telah memaafkan mereka.”

Sulit membayangkan sikap seperti itu muncul dari seseorang yang baru saja disakiti begitu dalam. Orang-orang yang pernah berusaha menjatuhkannya justru selamat karena pemaafannya. Ia tidak memakai kesempatan itu untuk membayar luka dengan luka. Ia memilih jalan yang lebih berat: memaafkan ketika ia sebenarnya mampu membalas.

Kabar tentang sikap Ibnu Taimiyyah ini akhirnya sampai kepada Qadhi Ibnu Makhluf al-Maliki, salah satu orang yang pernah memusuhinya. Ia pun mengakui keutamaan Ibnu Taimiyyah. Ia berkata bahwa mereka belum pernah melihat orang yang lebih pemaaf daripada Ibnu Taimiyyah. Mereka berusaha menjatuhkannya, tetapi ketika Ibnu Taimiyyah memiliki kesempatan untuk membalas, ia justru memaafkan.

Di sinilah kisah ini terasa kuat. Kesabaran Ibnu Taimiyyah bukan hanya teori atau pidato pencitraan. Ia tidak sekadar menulis tentang sabar, rida, dan pemaafan. Ia menjalaninya. Bahkan ketika kehormatannya diserang, kebebasannya dirampas, dan nyawanya pernah terancam, ia tetap memilih untuk tidak menyimpan dendam.

Bagi Ibnu Taimiyyah, memaafkan bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah kekuatan jiwa terlihat. Orang yang membalas mungkin tampak kuat sesaat. Tetapi orang yang mampu memaafkan ketika ia punya kuasa untuk membalas menunjukkan kekuatan yang lebih dalam.
Barangkali di situlah letak kebesaran Ibnu Taimiyyah. Ia tidak membiarkan luka menentukan arah hidupnya. Penjara tidak membuatnya kehilangan cahaya batin. Permusuhan tidak menjadikannya pendendam. Dan kekuasaan untuk membalas tidak membuatnya lupa bahwa pemaafan sering kali lebih tinggi daripada kemenangan.

Dari kisah ini, kita melihat bahwa ujian tidak selalu berakhir sebagai kepahitan. Di tangan orang yang hatinya kuat, ujian bisa berubah menjadi jalan ilmu, jalan syukur, dan jalan kedekatan kepada Allah. Bukan hanya sabar dalam menahan sakit, tetapi juga lapang hati ketika kesempatan membalas sudah berada di depan mata (Edhy Aruman)

RUJUKAN
Ibn Taymiyyah. (2015). The principle of patience (A. F. A. Majothi, Trans.). Darul Imam Muslim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *