Sejarah mencatat salah satu skandal perampokan terbesar abad ke-20 ternyata tidak terjadi di bank, melainkan di atas panggung Hadiah Nobel. Tessa West, seorang profesor psikologi, membongkar ulang kisah pilu ini dalam bukunya _Jerks at Work_ (2022). Ceritanya bermula di Universitas Toronto pada awal 1920-an. Saat itu, seorang ahli bedah ortopedi muda bernama Frederick Banting mendatangi John Macleod, kepala departemen fisiologi yang sangat dihormati. Banting meminta izin meminjam ruang laboratorium untuk menguji hipotesis gilanya tentang ekstraksi insulin.

Awalnya, Macleod mencibir. Ia menganggap ide Banting mentah dan buang-buang waktu. Namun, karena terus didesak, Macleod akhirnya luluh. Ia meminjamkan lab yang tidak terpakai, memberikan akses ke anjing untuk bahan percobaan, dan menugaskan seorang mahasiswa asisten bernama Charles Herbert Best untuk menemani Banting. Setelah itu? Macleod pergi meningggalkan mereka untuk berlibur panjang selama musim panas.

Saat sang bos besar bersantai di masa liburannya, Banting dan Best justru _nguli_ habis-habisan di laboratorium. Mereka begadang, gagal berkali-kali, hingga akhirnya berhasil menemukan tonggak pengobatan insulin pertama untuk penderita diabetes.

Ketika Macleod kembali ke kampus pada bulan September, ia kaget bukan main melihat data di atas mejanya. Saking gengsinya, ia sempat meragukan keakuratan riset tersebut, yang ujung-ujungnya memicu pertengkaran sengit antara dirinya dan Banting selama bertahun-tahun. Memang, Macleod kemudian memberikan beberapa masukan teknis, tetapi keringat, darah, dan penyempurnaan murni dilakukan oleh Banting dan Best.
Lalu, di sinilah drama pencurian kredit itu dimulai.

Suatu hari, August Krogh — seorang pemenang Hadiah Nobel dari Kopenhagen yang istrinya kebetulan mengidap diabetes — datang berkunjung untuk melihat langsung keajaiban insulin tersebut. Insting manipulatif Macleod langsung menyala. Ia mengambil alih peran sebagai “tuan rumah”, menempel ketat Krogh, dan meracuni pikirannya dengan narasi bahwa riset Banting itu sepenuhnya berada di bawah kendali dan pengaruh hebat seorang John Macleod.

Manipulasi ini sukses besar. Krogh pulang ke Eropa, memperkenalkan insulin ke Skandinavia, lalu tanpa ragu menominasikan Banting dan… Macleod (bukan Best!) untuk memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran 1923.
Saat pengumuman kemenangan itu dirilis, Banting murka sejadi-jadinya. Ia merasa asistennya, Best, jauh lebih berhak atas piala tersebut ketimbang bosnya yang cuma numpang nama. Banting memboikot nama Macleod dari semua pidato kemenangannya dan nyaris menolak penghargaan bergengsi itu jika tidak dipaksa habis-habisan oleh pemerintah Kanada.
Di sisi lain, Macleod berdiri tersenyum di depan pers. Dengan sangat elegan dan penuh kepalsuan, ia menutupi aksi pencatutan idenya dengan satu kalimat sakti pelindung bos-bos _toxic: “Keberhasilan ini semata-mata adalah hasil kerja sama tim.”

Puluhan tahun setelah tragedi itu, kebenaran akhirnya terbongkar. Rolf Luft, ahli endokrinologi sekaligus ketua komite seleksi Nobel dari Karolinska Institute, mengakui bahwa memberikan piala kepada Macleod adalah _blunder_ terburuk sepanjang sejarah komite Nobel.

Sekarang cerita kita bergeser dari lab medis di Toronto tahun 1920-an. Mari kita putar waktu ke ruang rapat kantor Anda hari ini. Kostumnya mungkin berubah, tapi polanya sama persis. Pernahkah Anda mengajukan sebuah gagasan brilian di ruang _meeting_, lalu atasan atau rekan Anda hanya manggut-manggut sekilas sebelum memindahkan topik? Dua minggu kemudian, di depan jajaran direksi, orang yang sama mempresentasikan gagasan persis milik Anda—kali ini dikemas apik di slide PowerPoint, lalu diklaim sebagai “inspirasinya saat ngopi akhir pekan”.

Dan Anda cuma bisa duduk di pojokan, tersenyum kaku menahan _nyesek_.
Praktik “makan tulang teman” ini adalah bentuk pencurian yang sangat halus. Tidak ada barang fisik yang raib. Tapi anehnya, rasanya jauh lebih merusak daripada sekadar kehilangan laptop inventaris kantor.

Tahun lalu, riset dari David Zweig di _Journal of Knowledge Management_ menelanjangi fenomena busuk ini dengan sebutan _knowledge theft_ (pencurian pengetahuan). Zweig dan timnya membongkar realitas pahit bahwa membajak ide rekan kerja bukanlah sekadar ketidaksengajaan “lupa menyebut nama”. Itu adalah serangan langsung terhadap harga diri profesional seseorang.

Logikanya begini. Pengetahuan bukan sekadar rentetan data; ia adalah kepingan dari identitas si pekerja. Ketika hasil analisis berhari-hari dan kreativitas Anda dibajak lalu diberi label nama orang lain, yang dirampas adalah kebanggaan Anda.
Dampak destruktifnya ternyata memicu efek domino yang mengerikan. Para korban pencatutan ini secara insting akan langsung membangun tembok pertahanan. Mengutip temuan klasik Catherine Connelly belasan tahun silam, fenomena ini melahirkan _knowledge hiding.

Karyawan yang tadinya vokal berubah drastis menjadi sangat pasif. Punya solusi cerdas untuk masalah perusahaan? Mending diam. Tahu ada celah fatal di proyek klien? Pura-pura tidak lihat. Buat apa repot-repot memeras otak kalau ujung-ujungnya karpet merah dan bonus akhir tahunnya dinikmati si “Macleod” versi modern?
Secara psikologis, tutup mulut adalah respons perlindungan diri yang paling waras. Siapa yang mau jadi keledai yang dimanfaatkan berkali-kali?. Celakanya, ketika wabah _knowledge hiding_ ini menyebar, organisasi sendirilah yang paling babak belur. Pakar strategi bisnis seperti Robert Grant sudah mewanti-wanti sejak lama bahwa keunggulan kompetitif sebuah perusahaan murni terletak pada kemampuannya mengelola ide. Tapi, bagaimana inovasi bisa bernapas kalau para pemilik idenya mogok bersuara?.

Di sinilah letak ironinya. Perusahaan sering kali membuang dana miliaran untuk pelatihan _team building_ dan kampanye budaya kerja inklusif, tapi di saat bersamaan membiarkan para pencuri kredit ini berkeliaran bebas, bahkan mendapat kursi promosi.

Selama kontribusi intelektual tidak dihargai secara adil, dan pepatah _Give credit where credit is due_ cuma jadi tempelan usang di dinding ruang rapat atau HRD, ide-ide berlian hanya akan membusuk di dalam laci meja karyawan. Urusan mencatut prestasi orang lain adalah cara paling sunyi untuk membunuh masa depan perusahaan.
Karena laptop yang dicuri bisa diganti hari itu juga oleh tim IT. Tapi kepercayaan karyawan yang sudah kadung hancur? Tidak ada vendor yang menjual gantinya. *Edhy Aruman*

DAFTAR PUSTAKA

Bergh, D. D., Ketchen, D. J., Orlandi, I., Heugens, P. P., & Boyd, B. K. (2024). Information asymmetry in management research: Past accomplishments and future opportunities. _Journal of Management,_ 50(1), 3–31. https://doi.org/10.1177/0149206318798026
Connelly, C. E., Zweig, D., Webster, J., & Trougakos, J. P. (2012). Knowledge hiding in organizations. _Journal of Organizational Behavior,_ 33(1), 64–88. http://www.jstor.org/stable/41415737
Grant, R. M. (1996). Toward a Knowledge-Based Theory of the Firm. _Strategic Management Journal_, 17, 109–122. http://www.jstor.org/stable/2486994
West, T. V. (2022). _Jerks at work: Toxic coworkers and what to do about them. Portfolio.
Zweig, D., Damp, A., & Scott, K. A. (2025). It’s mine but you took it: knowledge theft as a barrier to organizational knowledge management efforts. Journal of Knowledge Management, 29(1), 1835. https://doi.org/10.1108/JKM-07-2023-0653

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *