Marc Benioff adalah bukti nyata bahwa sebuah perusahaan bisa tumbuh menjadi raksasa tanpa harus kehilangan jiwanya. Kisahnya dimulai di Oracle, tempat ia meniti karier dengan sangat gemilang hingga meraih penghargaan _Rookie of the Year.

Namun, di balik tumpukan piagam dan bonus itu, Benioff merasa ada yang hilang. Ia seperti hidup dalam dua dunia yang saling bertolak belakang: di siang hari ia adalah eksekutif yang hanya mengejar target profit, sementara di malam hari ia adalah relawan yang peduli pada isu sosial.

Kegelisahan ini memuncak karena ia merasa dunia bisnis saat itu terlalu kaku memegang prinsip bahwa satu-satunya tugas perusahaan adalah menyenangkan pemegang saham. Benioff merasa terjepit; ia ingin sukses, tapi ia tidak ingin kesuksesannya hanya diukur dari angka di saldo bank.

Titik baliknya terjadi saat ia memutuskan untuk mengambil jeda dan pergi ke India. Di sebuah ashram, ia bertemu dengan Mata Amritanandamayi, seorang tokoh spiritual yang memberikan teguran sederhana namun membekas. Mata bertanya mengapa Benioff tidak mulai memberikan sesuatu kembali kepada dunia sekarang juga, tanpa harus menunggu kariernya selesai.

Pertemuan itu, menurut beberapa wawancara yang kemudian ia ceritakan, menjadi momen pencerahan bagi Benioff.
Ia pulang dengan satu janji yang, menurut pengakuannya sendiri, terasa agak nekat saat itu: jika ia mendirikan perusahaan, nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Tahun 1999, lahirlah *Salesforce*. Benioff tidak hanya membawa teknologi _cloud_ yang inovatif, tapi ia juga memperkenalkan model “*1-1-1*” yang kini melegenda. Salesforce.com adalah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang menyediakan software berbasis cloud untuk membantu perusahaan mengelola hubungan dengan pelanggan. Tahun lalu, nilai kapitalisasi pasarnya mencapai US$186 miliar.

Sejak hari pertama, Salesforce berkomitmen menyumbangkan 1 persen saham, 1 persen produk, dan 1 persen waktu karyawannya untuk kegiatan sosial. Banyak orang menganggap bisnis dan empati tidak bisa berjalan bersama. Benioff justru mencoba membuktikan sebaliknya—meski saat itu risikonya sangat nyata.

Hasilnya memang mengesankan, meski tidak semua orang langsung percaya pendekatan itu akan berhasil; Salesforce tumbuh menjadi perusahaan senilai ratusan miliar dolar tanpa harus mengabaikan janji sosialnya.

Keunikan Benioff sebagai pemimpin paling terlihat saat nilai-nilai kemanusiaannya diuji di ruang publik. Ia tidak ragu mempertaruhkan bisnisnya demi keadilan. Salah satu momen paling berani adalah ketika ia menentang undang-undang di Indiana yang dianggap diskriminatif.

Misalnya, Benioff secara terbuka mengancam akan menarik investasi perusahaannya dari negara bagian Indiana. Gara-garanya pada tahun 2015, pemerintah Indiana mengesahkan undang-undang (Religious Freedom Restoration Act) yang dinilai banyak pihak dapat melegitimasi diskriminasi terhadap kelompok tertentu.

Baginya, melindungi martabat karyawannya jauh lebih penting daripada menjaga hubungan politik dengan pemerintah setempat. Keberaniannya ini akhirnya memicu banyak CEO lain untuk ikut bersuara, hingga undang-undang tersebut akhirnya diubah.

Di San Francisco, kota kelahirannya yang juga menjadi pusat industri teknologi, Benioff kembali melakukan hal yang tak lazim bagi seorang miliarder. Ia justru mengadvokasi kenaikan pajak bagi perusahaan teknologi besar—termasuk perusahaannya sendiri—untuk membantu warga yang tidak memiliki tempat tinggal.

Ia sering menyebut masyarakat dan lingkungan sebagai “selimut yang indah” yang harus dijaga bersama. Baginya, perusahaan tidak hidup di ruang hampa; jika kota tempatnya berdiri sedang menderita, perusahaan tidak boleh berpangku tangan.

Melalui gagasannya tentang “Kapitalisme Baru”, Benioff terus mengajak para pemimpin bisnis di seluruh dunia untuk menyadari bahwa keuntungan dan dampak sosial bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan. Ia menunjukkan bahwa saat sebuah bisnis dijalankan dengan kasih dan tanggung jawab, kepercayaan publik ternyata menjadi aset yang jauh lebih mahal daripada sekadar angka penjualan.

Pada akhirnya, kisah Benioff menunjukkan bahwa keberanian seorang pemimpin sering kali diuji bukan saat bisnis sedang tumbuh, tetapi saat nilai-nilai yang ia yakini dipertanyakan.

RUJUKAN
George, B. (2024). _90 Days to Level Up Your Leadership_. Wiley.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *