Gaesa
Oleh: EDHY ARUMAN
HARI-hari ini, di tengah krisis minyak, migrasi massal, dan runtuhnya ekonomi Kuba, Amerika kembali melirik Havana. Ada pertanyaan, apa niat AS sesungguhnya. Benarkah Washington membela rakyat Kuba, atau hanya sedang menjaga kepentingan geopolitiknya sendiri?
Kamis, 15 Mei 2026, Direktur CIA John Ratcliffe tiba-tiba ke Havana, Kuba. Kunjungan ini dinilai banyak pengamat lebih terasa sebagai sinyal tekanan geopolitik daripada diplomasi biasa.
Kita tahu, Kuba saat itu sedang berada di titik rapuh: pemerintah mengakui cadangan minyak negara hampir habis, listrik padam bergilir terjadi di berbagai kota, inflasi melonjak, dan gelombang migrasi warga Kuba terus membesar menuju Amerika Latin dan Amerika Serikat.
Bersamaan dengan itu, jaksa federal Amerika Serikat tengah mendorong dakwaan terhadap Raúl Castro terkait dugaan perdagangan narkotika dan insiden penembakan pesawat kemanusiaan pada 1996.
Namun inti perhatian Washington sebenarnya tertuju pada satu nama: GAESA.
Beberapa hari sebelumnya, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memperluas sanksi terhadap konglomerasi militer tersebut. Gedung Putih bahkan menyebut pendapatan GAESA “kemungkinan lebih dari tiga kali anggaran negara Kuba.”
Dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperkeras tekanan dengan menyebut GAESA sebagai alat elite Kuba untuk “menindas rakyat sambil memperkaya diri mereka sendiri” (Abi-Habib & Gamio, 2026).
Di situlah dunia mulai melihat wajah kekuasaan Kuba yang sesungguhnya.
Bukan Partai Komunis. Bukan parlemen. Bukan pula rakyat. Yang berkuasa sesungguhnya adalah sebuah imperium bisnis militer tertutup yang selama ini bekerja di balik slogan revolusi.
“The most powerful entity in Cuba is not the Communist Party. It is a secretive military-run conglomerate known as GAESA.”
Kalimat itu terdengar seperti ironi yang menghancurkan seluruh romantisme revolusi Kuba sendiri. Selama puluhan tahun, Havana membangun citra sebagai simbol perlawanan terhadap kapitalisme dan oligarki. Fidel Castro berbicara tentang kesetaraan, distribusi kekayaan, dan pembebasan rakyat dari dominasi elite ekonomi.
Namun sejarah bergerak dengan cara yang kejam.
Hari ini, sebagian besar denyut ekonomi Kuba justru terkonsentrasi di tangan elite militer dan keluarga politik yang berputar di sekitar GAESA. Konglomerasi ini diperkirakan mengendalikan antara 40 hingga 70 persen ekonomi nasional Kuba. Mereka menguasai hotel, pelabuhan, perdagangan ritel, properti, logistik, ekspor-impor, valuta asing, hingga sektor pariwisata strategis yang menjadi sumber utama devisa negara.
Artinya sederhana: siapa menguasai GAESA, menguasai Kuba.
Di titik inilah analisis Max Weber dalam Economy and Society menjadi sangat relevan untuk membaca Kuba modern. Weber menjelaskan bahwa negara tidak hanya bertahan melalui kekerasan atau ideologi, tetapi melalui struktur dominasi (Herrschaft) yang bekerja lewat birokrasi, kontrol ekonomi, dan legitimasi politik.
Kekuasaan modern, menurut Weber, menjadi sangat kuat ketika institusi administratif dan ekonomi melebur dalam satu struktur yang terorganisasi dan sulit diawasi publik.
GAESA adalah contoh konkret dari mekanisme itu.
Konglomerasi ini bukan sekadar perusahaan militer, melainkan instrumen dominasi sosial-ekonomi.
Ia mengontrol akses terhadap devisa, investasi, perdagangan, dan pekerjaan. Dalam bahasa Weberian, GAESA memperlihatkan bagaimana negara revolusioner perlahan berubah menjadi sistem dominasi birokratik yang menopang dirinya melalui kontrol ekonomi.
Yang membuatnya semakin tajam adalah sifat patrimonial kekuasaan tersebut.
Weber menyebut patrimonialisme sebagai bentuk kekuasaan yang bertumpu pada loyalitas personal dan hubungan keluarga, bukan meritokrasi modern. Struktur “How GAESA is controlled” menunjukkan pola itu dengan sangat jelas. Raúl Castro menjadi figur sentral yang membangun sekaligus melindungi kerajaan ekonomi ini. Ia menunjuk menantunya sendiri, Luis Alberto Rodríguez López-Calleja, untuk memimpin GAESA hingga 2022. Setelah López-Calleja meninggal, pengaruh keluarga Castro tetap bertahan melalui jaringan elite militer dan kerabat dekat.
Dengan kata lain, kekuasaan ekonomi Kuba diwariskan hampir seperti monarki modern—tetapi dibungkus bahasa revolusi dan sosialisme.
Namun pada saat yang sama, GAESA juga sangat birokratik: hierarkis, disiplin, tertutup, dan administratif. Di sinilah konsep Weber tentang iron cage atau “sangkar besi” terasa relevan. Sistem birokrasi modern sering tampak rasional dan legal, tetapi justru menciptakan struktur dominasi yang sangat sulit ditembus masyarakat.
Kuba hari ini tampak seperti ilustrasi hidup dari peringatan Weber itu.
Revolusi yang dahulu menjanjikan pembebasan rakyat justru menghasilkan birokrasi militer-ekonomi yang bekerja sangat efisien untuk mempertahankan kekuasaan elite.
Dan bagian paling mencolok dari struktur itu hanya dua kata kecil: no oversight.
Tidak ada pengawasan publik.
Keuangan GAESA nyaris tidak transparan. Pendapatannya tidak benar-benar muncul dalam anggaran negara. Bahkan mantan kepala auditor Kuba pernah mengakui bahwa ia tidak memiliki akses penuh terhadap laporan keuangan GAESA—dan segera dicopot dari jabatannya setelah pernyataan itu.
Dalam perspektif Weber, kondisi ini menunjukkan bagaimana birokrasi dapat berubah menjadi alat dominasi tertutup ketika tidak lagi dikontrol masyarakat sipil. Negara tetap berbicara atas nama rakyat, tetapi mekanisme ekonomi sesungguhnya berada di tangan elite administratif-militer yang bekerja di balik institusi negara.
Ironi Kuba terasa semakin menyakitkan ketika melihat kondisi sosial masyarakatnya hari ini. Rakyat menghadapi kekurangan pangan, obat-obatan, listrik, dan transportasi. Banyak rumah sakit kekurangan pasokan dasar. Anak muda meninggalkan negara itu dalam gelombang migrasi terbesar sejak revolusi 1959.
Namun pada saat yang sama, GAESA terus membangun hotel-hotel mewah.
Data pemerintah Kuba menunjukkan bahwa pada 2024 negara menghabiskan hampir 40 persen anggarannya untuk sektor pariwisata dan perhotelan—sekitar US$1,5 miliar—meskipun tingkat hunian hotel hanya berkisar 30 persen. Anggaran pariwisata bahkan sebelas kali lebih besar dibanding gabungan anggaran pendidikan dan kesehatan pada tahun yang sama (Abi-Habib & Gamio, 2026).
Pemandangan itu terasa seperti metafora tragis tentang revolusi yang kehilangan jiwanya.
Hotel-hotel berbintang menjulang di Havana, sementara rakyat antre roti dan hidup di tengah pemadaman listrik. Wisatawan asing menikmati koktail di rooftop hotel mewah, sementara banyak keluarga Kuba kesulitan membeli beras dan susu.
Dan mungkin di situlah signifikansi terbesar membahas GAESA.
Ia bukan sekadar kisah tentang Kuba. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan modern bekerja: ketika militer berubah menjadi oligarki ekonomi, ketika birokrasi berubah menjadi sangkar besi kekuasaan, dan ketika ideologi digunakan untuk melindungi elite dari pengawasan publik.
Karena pada akhirnya, seperti dipahami Weber, persoalan terbesar politik modern bukan hanya siapa yang memegang negara, melainkan siapa yang mengendalikan institusi ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dan di Kuba hari ini, jawabannya tampaknya bukan rakyat. Edhy Aruman
DAFTAR PUSTAKA
Abi-Habib, M., & Gamio, L. (2026, May 16). The secretive conglomerate that controls Cuba’s economy. The New York Times. https://www.nytimes.com/interactive/2026/05/16/world/americas/cuba-military-conglomerate-gaesa-economy-explained.html
Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press.


