Pembeda
Oleh: EDHY ARUMAN
THOMAS Edison pernah ditanya tentang ribuan percobaan yang gagal sebelum ia berhasil menemukan lampu pijar. Dengan tenang ia menjawab bahwa dirinya tidak gagal, melainkan hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil.
Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa yang membedakan seseorang bukanlah keadaan yang dihadapinya, melainkan sikap yang dipilih ketika menghadapi keadaan tersebut.
Edison tidak dikenang karena hidupnya mudah, tetapi karena ia menolak menyerah ketika dunia menganggap usahanya sia-sia. Ia adalah seorang difference maker—pribadi yang menghadirkan perubahan karena cara pandangnya memberi harapan bagi orang lain.
Semangat itu pula yang tampak dalam perjalanan hidup Edison pada masa-masa sulitnya. Sebelum dikenal sebagai penemu besar, ia pernah berada dalam tekanan keuangan yang sangat berat.
Bengkel kecil miliknya hampir disita karena utang yang menumpuk. Bahkan, setiap hari ia harus membayar seorang sheriff hanya agar penyitaan pabriknya ditunda sementara waktu.
Keadaan semakin buruk ketika perusahaan gas memutus aliran gas ke tempat kerjanya karena tagihan yang belum terbayar. Pabriknya mendadak gelap gulita tepat ketika ia sedang melakukan eksperimen penting.
Banyak orang mungkin akan berhenti dan menyalahkan keadaan. Namun Edison memilih sikap yang berbeda. Kemarahan dan kekecewaannya tidak membuatnya menyerah, melainkan mendorongnya mencari jalan baru. Ia mulai mempelajari teknologi energi dan bertanya dalam dirinya sendiri apakah listrik dapat menggantikan gas.
Dari rasa kecewa itulah lahir ide besar yang kemudian mengubah dunia. Kesulitan yang hampir menghancurkannya justru menjadi awal dari lahirnya General Electric, salah satu perusahaan terbesar dalam sejarah industri modern.
Edison menunjukkan bahwa masalah sering kali bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari kreativitas dan perubahan besar. Seperti yang pernah dikatakannya, “Opportunity is missed by most people because it is dressed in overalls and looks like work.” Kutipan itu menunjukkan bahwa peluang sering kali tersembunyi di balik kesulitan dan kerja keras.
Kisah serupa juga terlihat dalam perjalanan Peter Jennings. Ketika masih berusia dua puluh enam tahun, ia mendapatkan kesempatan langka menjadi pembawa berita utama di sebuah jaringan televisi besar di Amerika Serikat. Banyak orang iri melihat pencapaiannya. Ia muda, cerdas, dan memiliki masa depan yang tampak cerah. Namun di balik semua itu, Jennings sebenarnya belum siap menghadapi tekanan besar dunia jurnalistik nasional.
Ia harus bersaing dengan Walter Cronkite, seorang jurnalis legendaris yang sangat dipercaya masyarakat Amerika. Kritik pun berdatangan. Jennings dianggap terlalu muda dan kurang matang. Meskipun memiliki sikap positif dan rasa percaya diri, ia menyadari bahwa dirinya belum memiliki pengalaman yang cukup. Setelah tiga tahun bertahan, ia akhirnya memilih mundur dari posisi bergengsi tersebut.
Bagi sebagian orang, kegagalan seperti itu bisa menjadi akhir karier. Namun Jennings tidak membiarkan kegagalan menentukan hidupnya. Ia kembali dari awal dan memilih menjadi koresponden lapangan. Selama bertahun-tahun ia meliput berbagai konflik dunia, mulai dari Perang Vietnam, perang di Timur Tengah, hingga tragedi Olimpiade Munich. Pengalaman-pengalaman sulit itu membentuk dirinya menjadi jurnalis yang matang dan tangguh.
Tahun demi tahun berlalu. Ketika akhirnya kembali menjadi pembawa berita utama, Peter Jennings bukan lagi pemuda yang rapuh dan mudah gugup. Ia telah berubah menjadi salah satu jurnalis televisi paling dihormati di dunia.
Kisah hidupnya mengajarkan bahwa sikap positif memang penting, tetapi sikap harus berjalan bersama kerendahan hati untuk belajar dan keberanian untuk bangkit setelah gagal. Dalam salah satu wawancaranya, Jennings pernah berkata, “The key to success is to keep growing in all areas of life.”
Kalimat itu menggambarkan bahwa keberhasilan sejati lahir dari proses belajar tanpa henti.
Pelajaran tentang kekuatan sikap juga tampak dalam kisah Carole Bos. Pada suatu malam musim dingin di Belanda, Carole yang masih berusia dua puluh satu tahun sedang mengikuti ujian akhir bahasa Jerman. Ia menjalani hidup yang tidak mudah. Selain kuliah, ia juga harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di dalam dirinya sering muncul rasa ragu apakah ia cukup pintar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Setelah ujian selesai, profesornya meminta Carole untuk tinggal beberapa menit. Sang profesor memandangnya dengan serius lalu berkata, “Carole, kamu adalah salah satu murid paling cerdas yang pernah saya ajar. Masalahnya, kamu sendiri belum percaya pada kemampuanmu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat mengubah hidup Carole. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar melihat potensi besar dalam dirinya. Sang profesor tidak memberinya uang, jabatan, ataupun fasilitas istimewa. Ia hanya memberikan keyakinan dan harapan. Namun justru itulah yang paling dibutuhkan Carole pada saat itu.
Kata-kata tersebut terus teringat dalam pikirannya. Carole mulai percaya bahwa dirinya mampu meraih sesuatu yang lebih besar. Ia melanjutkan studi hukum dan berhasil menjadi lulusan terbaik di kelasnya. Akan tetapi, tantangan kembali datang ketika sebuah firma hukum menolak mempekerjakannya hanya karena ia perempuan. Mereka percaya bahwa perempuan tidak cocok menjadi pengacara persidangan.
Penolakan itu jelas melukai hatinya. Untuk beberapa waktu, Carole bahkan sempat mempertanyakan dirinya sendiri. Tetapi ia sadar, berhenti bukanlah pilihan.
Ia mendirikan firma hukumnya sendiri dan akhirnya berhasil menjadi pengacara sukses. Bahkan ketika ia mengalami kesedihan karena tidak dapat memiliki anak, ia kembali memilih untuk bangkit. Dari rasa sakit itu lahirlah AwesomeStories.com, sebuah situs inspiratif yang kemudian digunakan oleh sekolah-sekolah di berbagai negara untuk menyebarkan kisah-kisah yang membangun harapan.
Kisah Carole membuktikan bahwa satu kalimat positif dapat mengubah arah hidup seseorang. Seperti ungkapan John C. Maxwell, “People may hear your words, but they feel your attitude.” Sikap yang baik bukan hanya terlihat, tetapi juga dirasakan oleh orang lain.
Dari ketiga kisah tersebut terlihat jelas bahwa seorang difference maker bukanlah orang yang hidup tanpa masalah. Mereka adalah orang-orang yang memilih tetap memiliki sikap positif ketika hidup terasa berat. Edison mengubah kegagalan menjadi inovasi. Peter Jennings mengubah kritik menjadi pelajaran. Profesor Carole Bos mengubah rasa minder seorang mahasiswi menjadi keyakinan yang mengubah masa depannya.
Mungkin dunia memang tidak pernah kekurangan orang pintar. Yang langka justru orang-orang yang tetap menyalakan harapan ketika keadaan sedang gelap.
Orang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga membawa pengaruh baik bagi kehidupan orang lain. Sebab terkadang satu kalimat penyemangat, satu keberanian untuk bangkit, atau satu sikap pantang menyerah mampu mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Itulah makna sejati dari seorang The Difference Maker (Edhy Aruman)


