Cortex
Kalau Anda perhatikan, di momen-momen resmi: jumpa pers, konferensi tingkat tinggi, atau keterangan darurat, selain sang pejabat, yang paling rajin manggung adalah bahasa yang _njelimet_ dan susah dicerna.
Di panggung yang dipenuhi lampu kamera itu, selalu ada satu jurus lama yang hampir tak pernah gagal dipakai ketika keadaan mulai genting: berbicara dengan apa yang orang awam sering sebut sebagai “bahasa dewa”.
Coba perhatikan baik-baik ritme mereka saat berdiri di balik mimbar. Ketika sebuah _blunder_ atau kegagalan mulai tercium publik, tiba-tiba saja rentetan akronim rumit dan istilah teknis berhamburan dari mulut mereka. Di ujung pidato, sang tokoh tersenyum penuh wibawa, sementara kita yang menonton dari rumah cuma bisa mengernyitkan dahi sambil membatin: _”Ini orang sebenarnya lagi ngomongin apa, sih?”_
Praktik menyembunyikan realitas mengerikan di balik tameng jargon semacam ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum birokrat atau CEO modern gemar memakai bahasa rumit untuk menutupi borok, Presiden AS Ronald Reagan sudah mempraktikkannya di level yang jauh lebih ekstrem: ancaman perang nuklir.
Mari mundur sejenak ke pertengahan 1980-an. Saat itu, dunia sedang dihantui paranoia tingkat tinggi. Ketegangan antara Washington dan Moskow mendidih, dan bayangan kiamat akibat rudal balistik ada di depan mata. Dalam suasana seperti itu, Presiden Ronald Reagan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Ia harus menjaga ketenangan publik, sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah tetap memegang kendali. Dan di sinilah bahasa memainkan peran yang sangat penting.
Edward Schiappa, seorang pakar komunikasi, pernah membedah fenomena manipulasi linguistik ini lewat sebuah catatan menarik di tahun 1989. Ia menyoroti betapa cerdiknya pemerintahan Reagan membungkus kengerian senjata pemusnah massal menjadi sesuatu yang terdengar rasional, steril, dan terkendali. Strategi ini kelak kondang di kalangan akademisi dengan sebutan _Nukespeak_
.
Salah satu “karya agung” dari trik _Nukespeak_ ini adalah peluncuran konsep bernama CORRTEX. Di telinga warga awam, nama itu terdengar sangat heroik dan mutakhir—sebuah sistem canggih yang dijamin bisa menyelamatkan dunia. Padahal kalau dibedah sungguhan, CORRTEX cuma sebatas proposal mekanisme verifikasi senjata yang efektivitasnya masih sangat abu-abu.
Tapi menurut catatan Schiappa, di situlah letak kejeniusannya. CORRTEX disulap menjadi simbol politik. Ia bukan lagi sekadar alat teknis, melainkan etalase yang memamerkan sebuah negara yang rasional dan memegang kendali penuh.
Lewat istilah-istilah ilmiah yang seolah “terlalu rumit untuk otak rakyat biasa”, pemerintah menciptakan jarak aman. Publik dibikin _insecure_ (minder) dengan bahasa teknis, sehingga ujung-ujungnya mereka akan pasrah dan berpikir: _”Ya sudahlah, biarkan para ahli di pemerintahan yang ngurus.”_ Lama-lama orang merasa tenang, padahal masalahnya belum benar-benar hilang.
Sebenarnya, kita tidak perlu repot-repot terbang ke Washington era 80-an untuk melihat praktik ini. Coba tengok sejarah tata krama birokrasi di negeri kita sendiri. Dari masa ke masa, “bahasa dewa” selalu berevolusi menjadi tameng paling ampuh untuk menghindari tanggung jawab atau meredam kemarahan warga.
Ingat saat harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan diam-diam di tengah malam? Alih-alih menyebutnya “kenaikan harga” yang pasti akan memicu demonstrasi, istilah yang keluar dari corong resmi adalah _penyesuaian harga_. Ketika ada aktivis atau warga yang ditangkap aparat, bahasanya diperhalus menjadi _diamankan_. Bahkan penggusuran paksa yang diwarnai tangisan warga pun punya nama panggung yang jauh lebih elegan: _penertiban_ atau _relokasi_. Tujuannya cuma satu: menjaga ilusi harmoni di tengah kekacauan.
Praktik akrobat istilah ini mencapai puncaknya beberapa tahun lalu saat dunia dihantam pandemi global. Ketika negara-negara lain menggunakan istilah universal seperti “Karantina Wilayah” atau “Lockdown” — yang secara hukum menuntut negara untuk menanggung hajat hidup warganya—birokrasi kita memilih jalan ninja dengan meracik sup alfabet akronim yang membingungkan.
Saya masih ingat, waktu itu banyak orang di sekitar saya lebih sering bertanya: _”Hari ini kita boleh keluar atau tidak?”_
Kita dijejali dengan PSBB, PSBB Transisi, PPKM Darurat, PPKM Mikro, hingga PPKM berlevel-level. Banyak orang akhirnya lebih sibuk mengingat nama kebijakan daripada memahami substansinya.
Di balik _nukespeak_ ala birokrasi kesehatan ini, esensinya tetap sama: warga dilarang keluar rumah dan ekonomi keluarga menjerit.
Tak hanya di level nasional, di panggung tata kota pun sama puitisnya. Kata “penggusuran” tiba-tiba diharamkan dan diganti dengan _penataan_ atau _penggeseran_. Rencana “normalisasi” sungai diperdebatkan dan diganti bajunya menjadi _naturalisasi_. Padahal di lapangan, alat berat yang datang untuk merobohkan bangunan bentuknya tetap sama persis.
Di sektor ekonomi dan korporasi, bahasanya malah makin kebarat-baratan. Para teknokrat dan bos-bos besar sangat fasih melempar istilah _refocusing anggaran_, _tapering off_, _hilirisasi_, hingga _rightsizing_ atau _efficiency alignment_ saat hendak memecat ribuan karyawannya. Adakah CEO yang berani berdiri di depan ruang rapat dan terang-terangan bilang, “Hari ini kita lakukan PHK massal”? Tentu tidak.
Faktanya, mau dibungkus dengan bahasa sedewa apa pun, orang-orang tetap kehilangan pekerjaan. Dapur mereka tetap terancam tidak ngebul. Tapi dengan jargon-jargon elit tersebut, keputusan yang keras tadi tiba-tiba terdengar masuk akal — seolah semuanya hanya prosedur biasa.
Pelajaran dari CORRTEX di Amerika hingga akrobat singkatan di negeri sendiri menampar kita dengan satu realitas. Istilah boleh berubah. Singkatan boleh berganti. Jargon boleh semakin rumit. Tetapi kenyataan di lapangan biasanya jauh lebih sederhana daripada bahasa yang dipakai untuk menjelaskannya.
Maka, besok-besok jika Anda mendengar seorang pejabat, politisi, atau atasan Anda berpidato menggunakan rentetan istilah _njelimet_, eufemisme puitis, dan singkatan yang kelewat saintifik, jangan buru-buru manggut-manggut kagum. Berhentilah sejenak dan batin dalam hati: orang ini sedang memberikan solusi nyata, atau cuma lagi jualan obat penenang? Edhy Aruman
RUJUKAN
Schiappa, E. (1989). The rhetoric of nukespeak. _Communication Monographs_, 56, 253–272.


