Site icon INSTREAMNEWS.COM

Terima Kasih

Oleh: EDHY ARUMAN

 

BANYAK orang tidak benar-benar pergi dari pekerjaannya karena gaji yang kecil. Mereka pergi karena terlalu lama merasa tidak terlihat.

Empat tahun lalu, sahabat saya, Dwi Wulandari, melakukan penelitian tentang motivasi ekstrinsik dalam dunia kerja. Dari penelitiannya muncul satu temuan yang terasa sederhana, tetapi diam-diam menyentuh sisi paling manusiawi dari kehidupan profesional: banyak orang bertahan bukan semata karena angka di slip gaji, melainkan karena merasa dihargai. Sebaliknya, tidak sedikit yang memilih pergi karena terlalu lama bekerja dalam sunyi.

Ada orang yang datang paling pagi, pulang paling malam, menyelesaikan tugas tanpa banyak keluhan, tetapi tidak pernah benar-benar mendapat pengakuan. Tidak dimarahi, memang. Namun juga tidak pernah diapresiasi. Lama-kelamaan, keheningan itu terasa mengikis energi. Orang mulai bertanya dalam hati: “Apakah kerja keras saya benar-benar berarti?”

Liburan kemarin saya menonton serial drama Korea Agency (2023). Serial itu berkisah tentang Go Ah-in, seorang perempuan ambisius yang menjadi eksekutif perempuan pertama di sebuah agensi periklanan besar. Awalnya ia dikenal dingin, keras, bahkan sering menjadi bahan gunjingan di kantor.
Namun menariknya, para staf yang bekerja langsung di bawahnya justru tetap loyal. Bukan karena Ah-in ramah atau hangat, tetapi karena ia menghargai kualitas kerja timnya. Ia bisa keras terhadap target, tetapi tidak pernah meremehkan usaha orang lain.

Dari situ saya teringat pada buku karya Gary D. Chapman dan Paul E. White berjudul The 5 Languages of Appreciation in the Workplace. Buku itu menjelaskan bahwa setiap orang memiliki “bahasa apresiasi” yang berbeda-beda.

Ada yang merasa dihargai lewat kata-kata afirmasi, ada yang lebih tersentuh oleh bantuan nyata, waktu berkualitas, hadiah kecil, atau perhatian sederhana yang tulus. Masalahnya, banyak tempat kerja hanya fokus pada evaluasi kinerja, tetapi lupa memahami bagaimana manusia ingin dihargai.
Salah satu kisah dalam buku itu adalah tentang Dave, seorang asisten CFO berusia 30 tahun di perusahaan properti. Dave sebenarnya menyukai pekerjaannya. Ia tidak punya konflik besar dengan perusahaan maupun atasannya. Namun setelah lima belas bulan bekerja, ia memilih resign.
Alasannya terdengar sederhana, tetapi terasa sangat manusiawi.

“Kalau saya melakukan kesalahan, saya langsung mendengarnya. Tapi kalau saya bekerja dengan baik, yang saya dapat hanya keheningan.”

Kalimat itu terasa menampar. Sebab banyak tempat kerja memang lebih cepat menemukan kesalahan dibanding mengakui usaha. Kritik disampaikan segera, tetapi apresiasi sering dianggap tidak penting. Padahal manusia bukan mesin produksi yang cukup diberi target lalu dibiarkan berjalan sendiri. Ada kebutuhan emosional untuk merasa dilihat.

Saya jadi teringat beberapa teman yang sebenarnya menyukai pekerjaannya, tetapi perlahan kehilangan semangat karena merasa keberadaannya tidak pernah benar-benar dianggap penting. Mereka tidak kekurangan kemampuan. Mereka hanya terlalu lama hidup dalam ruang kerja yang dingin.

Namun tidak semua tempat kerja seperti itu.

Dalam buku yang sama ada kisah Tammy, seorang asisten medis di klinik mata milik Dr. Jones.

Tammy beberapa kali mendapat tawaran pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tetapi ia tetap memilih bertahan. Alasannya bukan sekadar loyalitas profesional. Ia merasa dihargai sebagai manusia.
Dr. Jones punya kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampaknya sederhana: sesekali mentraktir makan siang tim, memberi tambahan cuti saat Natal, atau sekadar memuji stafnya secara tulus di depan rekan kerja lain. Tidak mewah. Tidak dramatis. Namun perhatian-perhatian kecil itu menciptakan rasa memiliki yang kuat.

Tammy merasa dirinya bukan sekadar pegawai, melainkan bagian penting dari perjalanan klinik tersebut.

Di banyak perusahaan modern, perhatian seperti ini justru mulai langka. Hubungan kerja semakin transaksional. Produktivitas dihitung detail, tetapi penghargaan emosional dianggap tidak relevan. Padahal ironi terbesar dunia kerja hari ini adalah perusahaan sering mengeluarkan biaya besar untuk mencari talenta baru, tetapi lupa merawat orang-orang yang sudah bertahan.

Kisah lain yang sangat menyentuh datang dari seorang pria yang telah bekerja lebih dari dua puluh tahun di perusahaan penerbitan besar. Setelah mengikuti seminar Gary Chapman, pria itu menghampiri sang penulis dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengaku selama puluhan tahun telah menyumbangkan banyak ide kreatif yang menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. Namun tidak pernah sekali pun ada yang benar-benar mengucapkan terima kasih kepadanya.

Bayangkan bekerja selama dua dekade dalam sunyi.

Tidak ada pengakuan. Tidak ada apresiasi. Tidak ada yang membuat seseorang merasa kontribusinya berarti.

Tangisan pria itu menjadi pengingat bahwa manusia sering tampak baik-baik saja di luar, padahal diam-diam menyimpan kelelahan emosional yang panjang.

Menariknya, Chapman dan White juga menjelaskan bahwa apresiasi bisa gagal jika diberikan dengan “bahasa” yang salah. Ada manajer yang merasa sudah suportif karena rajin memberi pujian verbal, padahal bawahannya lebih membutuhkan bantuan nyata. Ada pula orang yang tidak nyaman dipuji di depan umum, tetapi sangat tersentuh oleh catatan kecil yang personal.

Kadang niatnya sudah baik, tetapi caranya tidak sampai ke hati orang yang menerima.
Mungkin itulah sebabnya tempat kerja terbaik bukan selalu kantor dengan interior paling mewah atau gaji tertinggi, melainkan tempat di mana orang merasa keberadaannya bermakna. Tempat di mana kerja keras tidak dianggap biasa saja. Tempat di mana ucapan “terima kasih” tidak terasa mahal untuk diucapkan.

Mungkin karena itu, hal paling melelahkan di tempat kerja sebenarnya bukan target yang tinggi, melainkan ketika seseorang merasa usahanya tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Di balik target, laporan, dan tekanan profesional, setiap orang diam-diam ingin merasa dihargai. Sebab bagi banyak orang, apresiasi bukan sekadar membuat hati senang. Apresiasi adalah cara paling sederhana untuk membuat seseorang merasa dilihat, dianggap penting, dan tetap percaya bahwa usahanya tidak sia-sia. Edhy Aruman

RUJUKAN
Chapman, G. D., & White, P. E. (2011). The 5 languages of appreciation in the workplace: Empowering organizations by encouraging people. Northfield Publishing.

Exit mobile version