Oleh: EDHY ARUMAN
SUATU pagi ketika masih duduk di bangku kelas delapan SMP, Karen Kahn dipanggil gurunya ke depan kelas. Guru bahasa Inggrisnya menuduh tugas menulis yang ia kumpulkan sebagai hasil plagiarisme.
Tulisan itu dianggap terlalu baik untuk dibuat oleh seorang siswi pemalu yang hampir tidak pernah berbicara di kelas. Karen terkejut sekaligus malu.
Namun setelah ia berhasil membuktikan bahwa tulisan tersebut benar-benar hasil karyanya sendiri, sang guru meminta Karen membacakan tulisannya di depan seluruh kelas.
Momen itu mengubah hidupnya.
Untuk pertama kalinya Karen menemukan “suara”-nya. Sejak hari itu, teman-temannya mulai mengenalnya sebagai seorang penulis yang baik. Pengalaman sederhana di ruang kelas tersebut kemudian menjadi fondasi perjalanan panjang Karen Kahn hingga akhirnya menjabat sebagai Chief Communications Officer (CCO) di Intel.
Kisah Karen menunjukkan bahwa profesi Chief Communications Officer bukan sekadar pekerjaan membuat siaran pers atau mengelola media sosial perusahaan. Di balik jabatan tersebut, terdapat individu-individu yang bekerja membangun makna, menjaga kepercayaan, dan melindungi reputasi organisasi di tengah dunia yang semakin gaduh dan penuh krisis.
Dalam beberapa dekade terakhir, posisi CCO berkembang menjadi salah satu jabatan strategis paling penting di perusahaan modern. Jika dahulu fungsi komunikasi korporasi sering dipandang hanya sebagai pelengkap pemasaran atau hubungan media, kini CCO justru berada sangat dekat dengan pusat pengambilan keputusan perusahaan. Mereka menjadi penasihat strategis CEO, penghubung perusahaan dengan publik, sekaligus penjaga reputasi organisasi ketika badai datang.
Perubahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Dunia bisnis memasuki era hiper-konektivitas di mana satu unggahan media sosial dapat menghancurkan reputasi perusahaan global hanya dalam hitungan jam. Krisis tidak lagi bergerak perlahan. Publik menginginkan respons cepat, transparansi, empati, dan keberanian moral dari perusahaan. Dalam situasi seperti itu, CCO hadir sebagai figur yang menerjemahkan suara organisasi kepada publik sekaligus membawa suara publik masuk ke ruang rapat direksi.
Buku Chief Communications Officers at Work karya Tina Andersson memperlihatkan bahwa para CCO terbaik dunia bukan hanya ahli komunikasi, tetapi juga pendengar yang baik, pengelola krisis, pemimpin empatik, bahkan pencerita ulung.
Andrew Geldard, misalnya, memperlihatkan bagaimana komunikasi korporasi dapat menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata. Ketika banyak tempat musik kecil di Inggris mati akibat pandemi Covid-19, seorang sutradara Amazon Prime menghubunginya untuk mencari lokasi syuting acara Unsigned, sebuah program tentang musisi-musisi indie baru. Andrew melihat peluang itu bukan sekadar proyek media biasa. Ia mengumpulkan tim dan membantu memperbaiki sebuah tempat musik yang sudah kumuh di Kentish Town agar dapat hidup kembali dan digunakan dalam produksi film tersebut.
Bagi Andrew, komunikasi perusahaan bukan sekadar membangun citra merek. Komunikasi juga dapat menjadi alat menghidupkan kembali komunitas yang kehilangan harapan. Menariknya, dalam film tersebut Andrew bahkan sempat tertangkap kamera sebagai salah satu penonton konser. Pengalaman itu menjadi simbol bahwa seorang CCO tidak selalu bekerja dari balik meja rapat. Kadang mereka harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan sebuah cerita benar-benar hidup.
Kisah lain datang dari Kate Humphreys, Chief Communications Officer di Banijay. Salah satu pengalaman paling menegangkan dalam hidupnya terjadi ketika ia masih bekerja di sebuah reality show televisi di Inggris. Suatu malam, teleponnya terus berdering tanpa henti. Pesawat yang membawa kru dan pemeran acara televisinya mengalami kecelakaan.
Secara ajaib seluruh penumpang selamat. Namun bagi Kate, krisis baru saja dimulai.
Ia harus bergerak sangat cepat membentuk komite krisis sambil menghadapi tekanan luar biasa dari media dan paparazzi. Para fotografer mencoba memburu gambar kru yang dievakuasi menggunakan sekoci untuk dijual ke media global. Kate kemudian menghubungi berbagai media nasional agar wajah kru diburamkan demi melindungi identitas mereka. Ia juga berkoordinasi dengan Bandara Heathrow untuk menyediakan akses VIP sehingga para kru dapat kembali ke Inggris tanpa menjadi sasaran kamera.
Dalam situasi seperti itu, seorang CCO bukan hanya bertugas melindungi reputasi perusahaan, tetapi juga melindungi manusia di balik krisis tersebut. Keputusan harus diambil dalam hitungan menit, sering kali di tengah tekanan emosional yang sangat besar.
Craig Spence, Chief Communications Officer di International Paralympic Committee, memiliki pendekatan yang berbeda lagi. Pada awal kariernya, ia bekerja di perusahaan air minum Yorkshire Water. Suatu April Mop, Craig menciptakan kampanye “air keran diet” yang disiarkan di televisi nasional GMTV. Kampanye itu terdengar lucu, tetapi sebenarnya membawa pesan serius bahwa air keran adalah minuman sehat dan murah sehingga masyarakat tidak perlu menghabiskan uang membeli minuman nol kalori.
Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa kreativitas menjadi salah satu kekuatan utama seorang CCO. Mereka tidak hanya berbicara mengenai angka dan strategi bisnis, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pesan dapat masuk ke kehidupan masyarakat dengan cara yang sederhana, relevan, dan mudah diingat.
Sementara itu, Laura Brusca menunjukkan sisi paling emosional dari profesi ini. Pada tahun kedua kariernya di sebuah agensi public relations, ia mendapat tugas mengelola peluncuran obat malaria anak di Tanzania, Afrika. Laura datang langsung ke rumah sakit dan melihat anak-anak meminum obat yang dapat menyelamatkan nyawa mereka.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap profesi komunikasi.
Laura menyadari bahwa pekerjaannya bukan sekadar menulis rilis media atau membangun eksposur perusahaan. Dengan membantu menyebarkan cerita tentang obat tersebut ke seluruh dunia, ia ikut berkontribusi dalam upaya menyelamatkan kehidupan manusia.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa Chief Communications Officer modern bukan lagi sekadar “juru bicara perusahaan.” Pada akhirnya, pekerjaan mereka sederhana sekaligus berat: menjaga agar publik tetap percaya.
Di era digital saat ini, tugas mereka bahkan menjadi semakin kompleks. Sekarang, satu unggahan saja bisa mengubah situasi dalam beberapa menit. Hoaks dapat menyebar lebih cepat daripada fakta. Publik menuntut transparansi sekaligus keberpihakan moral dari perusahaan. Dalam situasi seperti itu, seorang CCO harus mampu memadukan kecerdasan strategis dengan sensitivitas kemanusiaan.
Mereka harus memahami kapan perusahaan perlu berbicara, kapan harus diam, kapan meminta maaf, dan kapan menunjukkan keberanian mengambil sikap. Karena itu, banyak Chief Executive Officer (CEO) kini menjadikan Chief Communications Officer sebagai penasihat paling dekat dalam menghadapi krisis maupun perubahan sosial besar.
Pada akhirnya, profesi Chief Communications Officer sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sangat mendasar: kepercayaan.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi algoritma, polarisasi, dan kebisingan informasi, perusahaan membutuhkan sosok yang mampu menjaga hubungan paling rapuh antara organisasi dan publiknya. Mereka bukan sekadar pengelola komunikasi, melainkan penjaga suara, makna, dan nurani perusahaan (Edhy Aruman)
RUJUKAN
Andersson, T. (2025). Chief communications officers at work: Trusted advisors that build, influence, and protect organizational reputations. Apress. https://doi.org/10.1007/979-8-8688-1856-1
