Oleh: EDHY ARUMAN
DALAM diplomasi global, kehangatan personal sering dipertontonkan sebagai panggung politik: senyum, pujian, dan gestur akrab dibangun untuk menciptakan ilusi harmoni. Namun di balik bonhomie itu, kepentingan antarnegara tetap saling bertabrakan, keras dan penuh kecurigaan.
Bonhomie adalah keakraban hangat yang tampak ramah, cair, dan penuh persahabatan dalam hubungan sosial atau politik. Dalam diplomasi, bonhomie sering digunakan untuk menciptakan kesan harmonis meski kepentingan sebenarnya tetap saling bertabrakan.
Di situlah diplomasi modern sering kali berubah menjadi panggung simbolik. Senyum, pujian, jabat tangan, dan kedekatan personal dipertontonkan seolah hubungan antarnegara sedang baik-baik saja, padahal di belakang layar persaingan strategis tetap berlangsung sengit. Bonhomie memberi ilusi stabilitas, bahkan ketika tidak ada persoalan mendasar yang benar-benar terselesaikan.
Donald Trump meninggalkan Beijing dengan senyum lebar, pujian berlebihan untuk Xi Jinping, dan hampir tanpa terobosan nyata. Tidak ada kesepakatan besar soal Taiwan, kecerdasan buatan, perang dagang, Laut China Selatan, ataupun masa depan rivalitas dua negara paling kuat di dunia. Yang tersisa justru sesuatu yang lebih kabur: hubungan personal.
“It’s all about relationship,” kata Trump setelah pertemuan dengan Xi Jinping (Troianovski, 2026). Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan sentimental. Tetapi di situlah inti politik luar negeri Trump selama ini: keyakinan bahwa hubungan antarpemimpin dapat menggantikan kompleksitas diplomasi internasional.
Masalahnya, dunia tidak selalu bekerja seperti negosiasi bisnis pribadi.
Artikel Anton Troianovski di The New York Times memperlihatkan bagaimana KTT Trump-Xi di Beijing justru membuka kelemahan terbesar diplomasi berbasis personalitas. Trump datang dengan pendekatan yang sangat khas: pujian, kedekatan emosional, bahasa persahabatan, dan keyakinan bahwa chemistry antarpemimpin dapat mencairkan konflik geopolitik.
Ia menyebut Xi sebagai “my friend.” Ia bahkan mengatakan mereka telah “become really a friend” (Troianovski, 2026).
Tetapi Beijing merespons dengan dingin.
Ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri China ditanya apakah Xi menganggap Trump sebagai teman, jawabannya sangat birokratis: kedua pihak hanya “bertukar pandangan mengenai isu-isu utama” (Troianovski, 2026). Tidak ada romantisme diplomatik. Tidak ada bahasa personal. Tidak ada pengakuan emosional seperti yang diharapkan Trump.
Dan mungkin di situlah seluruh perbedaan antara Washington dan Beijing hari ini terlihat paling jelas.
Trump memandang diplomasi sebagai hubungan antarindividu. Xi memandangnya sebagai permainan strategi jangka panjang antarnegara.
Karena itu, suasana KTT Beijing terasa aneh. Trump tampak berusaha membangun kehangatan personal, sementara Xi terlihat lebih fokus memanfaatkan momentum geopolitik demi kepentingan China. Bahkan banyak capaian yang diumumkan Trump tidak pernah benar-benar dikonfirmasi oleh Beijing.
Ini bukan pertama kalinya Trump mempercayai kekuatan hubungan personal dalam diplomasi. Ia pernah mengatakan bahwa dirinya dan Kim Jong-un “fell in love,” tetapi Korea Utara tetap mempertahankan senjata nuklirnya. Ia juga berkali-kali berbicara hangat dengan Vladimir Putin, tetapi gagal menghentikan perang Rusia di Ukraina.
KTT Beijing menunjukkan pola yang sama.
Trump tampaknya percaya bahwa pujian dapat mencairkan rivalitas geopolitik. Tetapi Xi justru memahami sesuatu yang lebih penting: hubungan internasional bukan soal kedekatan emosional, melainkan soal posisi tawar.
Dan posisi China hari ini jauh lebih kuat dibanding satu dekade lalu.
Di tengah perang Iran, krisis energi, polarisasi politik di Amerika, dan melemahnya pengaruh global Washington, Beijing muncul dengan rasa percaya diri yang baru. China tidak lagi berbicara sebagai negara berkembang yang membutuhkan legitimasi dari Amerika. Kini Beijing ingin diperlakukan sebagai kekuatan setara—bahkan dalam beberapa hal, mungkin lebih stabil daripada Washington sendiri.
Karena itu, Xi tidak perlu memuji Trump terlalu berlebihan. Ia hanya perlu menunggu.
Yang menarik, ketimpangan psikologis dalam KTT itu bahkan terlihat dari bahasa tubuh dan gaya komunikasi kedua pemimpin tersebut. Trump tampak haus validasi personal. Xi tampil lebih kaku, tenang, dan terkendali. Susan Shirk menyebut pujian Trump kepada Xi kadang terasa “embarrassing” karena terlalu berlebihan dan jelas tidak menghasilkan apa pun (Troianovski, 2026).
Dan mungkin itulah ironi terbesar dalam diplomasi modern Amerika di bawah Trump.
Negara paling kuat di dunia justru tampak terlalu bergantung pada pesona pribadi presidennya.
Padahal China bermain jauh lebih sabar. Beijing tidak mengejar kemenangan simbolik jangka pendek. Mereka berfokus membangun kekuatan teknologi, memperluas pengaruh ekonomi, memperkuat aliansi dengan Rusia, dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada Barat.
Xi tampaknya memahami bahwa waktu sedang bekerja untuk China.
Sementara Trump masih percaya bahwa hubungan personal dapat mengubah dunia, Beijing justru membangun strategi yang tidak bergantung pada siapa yang sedang duduk di Gedung Putih.
Mungkin karena itu KTT Beijing terasa begitu kosong secara substansi, tetapi sangat kaya akan simbolisme. Ia memperlihatkan perubahan besar dalam geopolitik global: Amerika masih memiliki kekuatan luar biasa, tetapi tidak lagi mampu secara otomatis memaksa dunia bergerak sesuai kehendaknya.
Dan China mengetahui itu (Edhy Aruman)
SUMBER
Troianovski, A. (2026, May 16). Trump calls Xi a ‘friend.’ But he left China without any breakthroughs. The New York Times. https://www.nytimes.com/2026/05/16/world/europe/trump-xi-china-summit.html
