Oleh: EDHY ARUMAN
TAHUN 2008, dunia diguncang krisis keuangan global. Banyak perusahaan tumbang, sebagian lainnya bertahan dengan susah payah di tengah ketidakpastian ekonomi yang mencekam.
WD-40 Company pun tidak luput dari bayang-bayang krisis itu. Suasana cemas perlahan menyusup ke ruang-ruang kerja, menghadirkan ketakutan yang tidak selalu diucapkan, tetapi terasa di mana-mana.
WD-40 Company adalah perusahaan asal Amerika Serikat yang dikenal melalui produk pelumas multifungsi WD-40. Perusahaan ini terkenal karena budaya kerja berbasis rasa syukur, penghargaan, dan kepemimpinan manusiawi.
Di tengah situasi seperti itu, Garry Ridge mulai merasakan perubahan kecil yang sulit dijelaskan, namun nyata adanya. Ke mana pun ia melangkah—di lorong kantor, ruang rapat, hingga pertemuan informal—orang-orang selalu menyapanya dengan pertanyaan yang sama:
“Garry, apa kabar?”
Awalnya ia mengira itu sekadar sapaan biasa. Namun suatu malam di kamar hotel, ia tiba-tiba memahami sesuatu yang jauh lebih dalam. Orang-orang sebenarnya tidak sedang bertanya tentang dirinya sebagai individu. Mereka sedang bertanya tentang rasa aman mereka sendiri.
“Apakah perusahaan ini akan baik-baik saja?”
“Apakah kami masih punya pekerjaan besok?”
“Apakah masih ada harapan?”
Di tengah ketidakpastian ekonomi, pertanyaan sederhana itu berubah menjadi cermin ketakutan manusia.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari “apa kabar?” sebenarnya berada.
Bukan pada kata-katanya, melainkan pada kebutuhan manusia untuk merasa diperhatikan.
Hari ini, “apa kabar?” adalah salah satu kalimat yang paling sering diucapkan manusia, tetapi juga salah satu yang paling kehilangan makna. Kita mengucapkannya di lorong kantor, di grup percakapan, di media sosial, di ruang rapat, bahkan di rumah. Namun sebagian besar waktu, pertanyaan itu hanya menjadi ritual sosial otomatis. Kita bertanya sambil berjalan. Menjawab sambil membuka ponsel. Mendengar tanpa benar-benar hadir.
Ironisnya, di era ketika komunikasi menjadi semakin cepat, manusia justru semakin sulit merasa didengar.
Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation menjelaskan bahwa masyarakat modern sedang mengalami krisis percakapan autentik. Teknologi membuat manusia terus terkoneksi, tetapi tidak otomatis membuat mereka merasa dekat. Orang berbicara lebih banyak, tetapi mendengarkan lebih sedikit. Kita terbiasa memberikan respons cepat, tetapi kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir dalam percakapan. Akibatnya, banyak interaksi sosial menjadi dangkal dan mekanis.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan “apa kabar?” perlahan berubah menjadi formalitas emosional.
Kita mengucapkannya bukan untuk memahami seseorang, melainkan untuk memenuhi tuntutan kesopanan sosial.
Padahal, di balik jawaban singkat seperti “baik-baik saja”, sering tersembunyi kelelahan yang tidak pernah diungkapkan.
Sebuah editorial dalam European Journal of Public Health yang ditulis Thierry Lang dan Cyrille Delpierre mempertanyakan makna sebenarnya dari pertanyaan sederhana seperti “How are you?” atau “Bagaimana keadaanmu?” Mereka menjelaskan bahwa jawaban manusia terhadap pertanyaan semacam itu tidak pernah benar-benar netral atau objektif. Jawaban seseorang dipengaruhi oleh budaya, tekanan sosial, harapan lingkungan, bahkan rasa takut dianggap lemah.
Artinya, ketika seseorang menjawab “saya baik-baik saja”, menurut Thierry Lang dan Cyrille Delpierre, jawaban itu belum tentu menggambarkan kenyataan emosional yang sebenarnya.
Banyak orang belajar menyembunyikan rasa sakitnya agar tetap diterima oleh lingkungan sosial dan profesional.
Dunia modern mengajarkan manusia untuk tampil kuat. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan produktivitas, ketahanan, dan performa. Orang dipuji karena mampu tetap bekerja meskipun lelah. Dipandang profesional ketika mampu menyembunyikan emosi. Dianggap sukses ketika tetap terlihat stabil di tengah tekanan.
Sedikit demi sedikit, manusia menjadi terbiasa memendam dirinya sendiri.
Mereka tersenyum ketika hancur.
Mereka berkata “aman” ketika cemas.
Mereka berkata “baik” ketika sebenarnya kehilangan arah.
Dan sering kali, tidak ada seorang pun yang benar-benar berhenti untuk melihatnya.
Padahal secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diakui keberadaannya. Dalam teori psikologi humanistik Carl Rogers, seseorang hanya dapat berkembang secara sehat ketika ia merasa diterima dan didengar tanpa syarat. Mendengarkan bukan sekadar aktivitas komunikasi, tetapi bentuk pengakuan terhadap kemanusiaan orang lain.
Karena itu, pertanyaan “apa kabar?” sebenarnya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Ia bisa menjadi jembatan kecil yang menyelamatkan seseorang dari rasa kesepian.
Ia bisa menjadi tanda bahwa di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, masih ada manusia yang bersedia berhenti sejenak untuk peduli.
Inilah yang dipahami Garry Ridge ketika memimpin perusahaannya di tengah krisis. Ia sadar bahwa manusia tidak hanya membutuhkan strategi bisnis atau kepastian ekonomi. Mereka membutuhkan harapan. Mereka membutuhkan rasa memiliki. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi ketakutan sendirian. Karena itu ia membangun budaya kerja yang dipenuhi keterbukaan, penghargaan, dan rasa syukur.
Ia memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak pemimpin modern: orang tidak selalu mengingat seberapa hebat strategi kita, tetapi mereka selalu mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa.
Hal yang sama juga terlihat pada Richard Branson dari Virgin Group. Branson percaya bahwa bisnis yang sehat dibangun dari hubungan antarmanusia yang sehat. Ketika karyawan diperlakukan dengan hormat dan penghargaan, mereka akan membawa energi yang sama kepada pelanggan dan lingkungan sekitarnya.
Di dunia olahraga, Phil Jackson menunjukkan pendekatan serupa saat melatih Chicago Bulls dan Los Angeles Lakers. Jackson memahami bahwa pemain tidak cukup dipimpin dengan strategi dan disiplin. Mereka perlu merasa dipercaya, dipahami, dan dihargai sebagai manusia. Hubungan emosional yang sehat menciptakan rasa memiliki, dan rasa memiliki melahirkan loyalitas serta keberanian untuk memberikan yang terbaik.
Semua itu menunjukkan satu hal penting: manusia berkembang bukan hanya karena sistem yang baik, tetapi karena perhatian yang tulus.
Dan perhatian sering kali dimulai dari pertanyaan sederhana.
“Apa kabar?”
Kadang, pertanyaan “apa kabar?” terasa begitu biasa sampai kita lupa bahwa tidak semua orang benar-benar baik-baik saja.
Ada yang menjawab sambil tersenyum, padahal sedang lelah menghadapi hidupnya sendiri. Ada yang berkata “aman”, hanya karena tidak ingin merepotkan orang lain.
Mungkin itu sebabnya percakapan kecil bisa terasa begitu berarti ketika seseorang benar-benar hadir, meski hanya untuk mendengar beberapa menit tanpa terburu-buru (Edhy Aruman).
RUJUKAN
Gostick, A., & Elton, C. (2020). Leading with gratitude: Eight leadership practices for extraordinary business results. Harper Business.
Lang, T., & Delpierre, C. (2009). “How are you?”: What do you mean? European Journal of Public Health, 19(4), 353. https://doi.org/10.1093/eurpub/ckp083
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin.
Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.
