Site icon INSTREAMNEWS.COM

Jubah

Di panggung korporasi dan politik modern, kita terlalu sering disuguhi sebuah lakon tragis yang ironis: seorang tokoh brilian yang belasan tahun dipuja bak pahlawan, tiba-tiba saja kita melihat mereka keluar pakai rompi oranye, wajah tertunduk, dan tangan diborgol.

Saat kilat kamera jurnalis menyambar, publik terperangah. Berita utama sibuk menggugat, “Bagaimana mungkin sosok secerdas dan sebaik dia bisa terjerumus?” Narasi yang terbangun seolah-olah korupsi adalah serangan jantung mendadak yang merobohkan kewarasan seseorang hanya dalam satu malam.

Saya sering merenung, apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka saat pertama kali menerima amplop cokelat itu? Meski jujur saja, tidak semua jawabannya pernah benar-benar jelas. Kebangkrutan moral nyaris tidak pernah meledak lewat satu keputusan impulsif atau reaktif dan seketika. Ia beroperasi layaknya tumor etika yang merayap pelan. Tidak terasa pada awalnya, sampai semuanya sudah terlambat.

Lebih dari seabad lampau, Lord Acton mewariskan sebuah kutukan abadi bagi para penguasa: kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut merusak secara absolut. Seperti yang dikatakan Soupios dan Mourdoukoutas, kekuasaan sebenarnya bekerja layaknya kaca pembesar. Ia tidak memproduksi sifat buruk dari ketiadaan, melainkan sekadar memperbesar kelemahan psikologis yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

Saat seorang pemimpin diam-diam dihantui rasa insecure atau ketakutan kronis akan kegagalan, kekuasaan sering kali dibajak menjadi alat kompensasi brutal untuk menutupi ketidakmampuannya.

Ada konsep menarik dari Joseph Wells soal Segitiga Kecurangan (Fraud Triangle). Menurutnya, korupsi selalu lahir dari perselingkuhan tiga elemen: tekanan yang mencekik, peluang yang menganga, dan—yang paling berbahaya—rasionalisasi. Tiga hal ini kalau ketemu, fatal jadinya.

Pemimpin tidak mendadak bangun tidur dan merencanakan perampokan. Mereka memanipulasi nuraninya sendiri terlebih dahulu, meyakinkan diri bahwa kejahatan yang mereka lakukan hanyalah sebuah “pengecualian yang bisa dibenarkan”.
Jika kita menuntut bukti empiris betapa kesuksesan bisa menjelma menjadi jebakan moral, tengoklah nisan raksasa telekomunikasi WorldCom dan perusahaan energi Enron di awal milenium. Bernie Ebbers (CEO WorldCom) dan Jeffrey Skilling (CEO Enron) tidak memulai karier mereka sebagai penipu ulung. Mereka adalah visioner yang kelewat cerdas. Namun, saya ingat teori Kets de Vries soal integritas: ketika dewa bernama “harga saham” di Wall Street menuntut tumbal pertumbuhan yang tak masuk akal, integritas mulai digadaikan.

Lucunya, di sinilah semua jadi kacau: tekanan kuartalan membunuh kejujuran. Memanipulasi angka di laporan keuangan awalnya disuntikkan sekadar sebagai “solusi kreatif sementara” untuk menenangkan investor. Namun, begitu dusta pertama terucap, dusta-dusta berikutnya harus diciptakan untuk menutupi jejak. Hasilnya? WorldCom memalsukan aset hingga 11 miliar dolar, sementara Enron hancur berkeping-keping. Tragedi ini menampar kita dengan satu kenyataan pahit: kultur pemujaan laba, jika dibiarkan liar, akan selalu sanggup memuntahkan pahlawan korporat menjadi pesakitan.

Namun, korupsi tidak selalu didorong oleh keputusasaan untuk menyelamatkan harga saham. Terkadang, ia murni lahir dari megalomania dan arogansi kesuksesan. John D. O’Gara dalam bukunya yang cukup terkenal sempat menyoroti betapa mematikannya Tone at the Top—nada moral yang didiktekan dari puncak pimpinan. Kasus Dennis Kozlowski, mantan CEO Tyco International, adalah monumen kebodohan yang paling epik untuk teori ini.

Kozlowski merasa dirinya adalah raja dewa yang tak tersentuh hukum. Ia membajak ratusan juta dolar uang perusahaan bukan untuk menyelamatkan bisnis, melainkan untuk mendanai gaya hidup hedonis yang gila-gilaan. Bayangkan, ia menggunakan uang pemegang saham untuk membeli tirai mandi berlapis benang emas seharga 6.000 dolar (hampir seratus juta rupiah) dan menggelar pesta ulang tahun istrinya yang bertema Kekaisaran Romawi di pulau Sardinia seharga 2 juta dolar.

Saat seorang pemimpin merasa telah memberikan segalanya bagi perusahaan, ia mulai dijangkiti ilusi bahwa ia “berhak” mengambil apa saja dari laci kas. Hukum gravitasi etika seolah-olah tak lagi berlaku baginya.

Lalu, bagaimana jika kejahatan itu tidak dibalut oleh tirai mandi berlapis emas, melainkan oleh jubah malaikat?
Di penghujung 2022, kita menyaksikan keruntuhan Sam Bankman-Fried (SBF) dan imperium kriptonya, FTX. Kasus ini membuktikan anomali yang mengerikan. Sebelum dijebloskan ke sel dengan vonis 25 tahun, SBF dipuja layaknya nabi moral.

Bermodalkan kampanye Effective Altruism, ia berjanji menghimpun kekayaan raksasa semata-mata untuk disumbangkan demi menyelamatkan umat manusia dari kemiskinan. Citranya dirancang sedemikian suci—ia tidur di beanbag, mengemudikan sedan butut, dan berkaus oblong saat menemui kepala negara. Ia adalah maskot mutlak dari sang “good leader”.

Namun, ketika entitas pribadinya berdarah-darah, ia diam-diam menyedot 8 miliar dolar deposit nasabah FTX. Seperti konsep ethical drift (pergeseran etika) yang dirumuskan oleh Craig dan Amernic, di dalam kepalanya, tindakan itu dirasionalisasi lewat arogansi intelektual tingkat dewa: “Saya meminjamnya sebentar, melipatgandakannya, dan pada akhirnya uang ini toh untuk mendanai riset dan menyelamatkan dunia.”

Ini adalah alasan merasa jadi juru selamat yang menganggap bahwa pencurian massal bisa dicuci bersih oleh niat baik fiktif yang ia karang sendiri. Dan yang paling berbahaya, rasionalisasi semacam itu selalu terasa sangat logis bagi pelakunya.
Jika SBF, Tyco, dan Wall Street masih terasa terlalu berjarak, mari kita tarik lensa ini ke halaman rumah kita sendiri. Belum lama ini, di tengah sucinya bulan puasa—momen yang seharusnya menjadi puncak tirakat spiritual—publik tanah air ditampar oleh ironi yang memuakkan. Lebih dari tiga kepala daerah secara beruntun terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK.

Bagaimana mungkin figur-figur yang siangnya fasih menebar senyum di spanduk ucapan selamat berbuka puasa, malamnya tertunduk layu mengenakan rompi oranye kebesaran lembaga antirasuah?
Jawabannya kembali pada isi daleman Segitiga Kecurangan (Fraud Triangle) dan tekanan sistemik. Para bupati dan wali kota ini tidak mendadak bangun tidur dan merencanakan perampokan. Mereka diimpit oleh ekosistem politik yang brutal—rapat malam yang tak pernah selesai, telepon dari elit partai yang mendikte kuota setoran, dan janji-janji kampanye yang harus dibayar lunas.

Mereka dipaksa memelihara mesin partai, membagikan bantuan sosial untuk konstituen, hingga menabung peluru logistik untuk Pilkada berikutnya. Ini yang sering disebut-sebut sebagai ‘Success Trap’ atau jebakan kesuksesan, seperti yang pernah diulas oleh Katz dan Liu. Ambisi mempertahankan takhta menelan habis kewarasan mereka.

Seperti halnya SBF, para politisi lokal ini menyuntikkan obat bius ke dalam nuraninya sendiri: “Saya meminta fee proyek 10 persen ini bukan untuk membeli mobil mewah, melainkan untuk dibagikan ke fakir miskin, membangun tempat ibadah, dan menghidupi tim sukses di daerah pemilihan saya.”Korupsi dipoles sedemikian rupa hingga terasa seperti sebuah “tugas suci” sang pahlawan daerah.

Kegilaan ini makin merajalela karena diamplifikasi oleh budaya feodal birokrasi kita. Jika sang kepala daerah menormalisasi potongan anggaran sebagai “uang koordinasi”, maka seluruh struktur aparatur di bawahnya akan secara otomatis memandang korupsi sekadar sebagai prosedur operasi standar. Brodsky mengingatkan, ketika prinsip mulai dikikis sedikit demi sedikit, batas antara benar dan salah akan lenyap sepenuhnya.

Pada akhirnya, kerentanan terhadap korupsi tidak secara otomatis mencap seorang pemimpin sebagai iblis sejak dalam kandungan. Spencer Pickett pernah mengingatkan bahwa para penipu korporat acap kali adalah orang-orang jenius yang gagal mengelola tekanan dan membiarkan ego membutakan red flags di depan mata.

Epilog tragis para raksasa—dari Skilling, Kozlowski, SBF, hingga rentetan kepala daerah yang terjaring OTT—menghadiahkan kita satu pencerahan pahit: penjahat kerah putih masa kini tak lagi melulu berjas rapi sambil mengisap cerutu. Sering kali, mereka datang dengan gaya hidup bersahaja, membalut diri dengan simbol-simbol kesalehan dan filantropi, sembari perlahan-lahan merobek setiap lembar kepercayaan yang dititipkan publik.

Integritas itu bukan piala. Tapi jujur saja, di dunia yang gila uang ini, siapa yang masih mau melatih ‘otot’ itu kalau bayarannya adalah babak belur?
Mungkin tidak ada.
Tapi di pusaran dunia yang mendewakan kekuasaan, keberanian untuk tetap waras adalah wujud kepemimpinan yang paling sulit. Dan ironisnya, cuma itu yang bisa menyelamatkan kita. Edhy Aruman

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, R. M. (2023). Leadership mindset 2.0: The psychology and neuroscience of reaching your full potential.
Brodsky, K. (2023). No apologies: How to find and free your voice in the age of outrage—Lessons for the silenced majority. Pitchstone Publishing.
Craig, R., & Amernic, J. (2020). Decoding CEO-speak. University of Toronto Press.
Hartley, R. D. (2008). Corporate crime: A reference handbook. ABC-CLIO.
Katz, S. J., & Liu, A. E. (1990). Success trap: Rethink your ambitions to achieve greater personal and professional fulfillment. Ticknor & Fields.
Kets de Vries, M. F. R. (2021). The CEO whisperer: Meditations on leadership, life, and change. Springer International Publishing.
O’Gara, J. D. (2004). Corporate fraud: Case studies in detection and prevention. John Wiley & Sons.
Pickett, K. H. S. (2007). C_orporate fraud: A manager’s journey._ John Wiley & Sons.
Soupios, M. A., & Mourdoukoutas, P. (2015). The ten golden rules of leadership: Classical wisdom for modern leaders. AMACOM.
Wells, J. T. (2017). Corporate fraud handbook: Prevention and detection (5th ed.) John Wiley & Sons.

Exit mobile version