Site icon INSTREAMNEWS.COM

Jam Tangan Ponzi

Dominic Khoo adalah potret hidup dari sebuah fatamorgana kesuksesan yang memukau mata. Di Singapura, ia bukan sekadar pengusaha; ia adalah sosok selebritas yang hidup di balik pagar bungalow kolonial, bergonta-ganti mobil mewah, dan menjalin pertemanan dengan pesohor dunia seperti Dennis Rodman.

Bermula sebagai fotografer potret tokoh-tokoh besar seperti Dalai Lama dan Cate Blanchett, Khoo melakukan manuver karier yang mengejutkan pada tahun 2013 dengan mendirikan _The WatchFund_, sebuah perusahaan investasi alternatif.
Namun, di balik kemilau emas dan detak mesin jam tangan mewah itu, tersimpan sebuah narasi tentang manipulasi, ambisi yang kebablasan, dan runtuhnya integritas.

The WatchFund memosisikan dirinya sebagai perantara bagi kolektor dan investor yang ingin mendiversifikasi aset mereka ke barang mewah. Dominic Khoo mengklaim memiliki akses eksklusif untuk membeli jam tangan edisi terbatas—seperti _Audemars Piguet, Patek Philippe,_ atau _Girard-Perregaux_—dengan harga jauh di bawah retail karena koneksinya di rumah lelang dan produsen.

Ia menjanjikan para investor bahwa mereka tidak hanya membeli barang mewah, tetapi membeli masa depan. “Dia tampak seperti seseorang yang bisa Anda percayai dengan mata tertutup,” kenang Dr. Edmund Liew, seorang dokter darurat di Hong Kong yang akhirnya terjebak ratusan ribu dolar dalam skema ini.

Kepercayaan publik semakin tebal karena Khoo sangat lihai mengelola reputasi. Ia bukan hanya muncul di media sosial, tetapi menghiasi halaman media internasional kelas berat seperti _Bloomberg, CNBC_, dan _The New York Times_.
Ia bahkan sesumbar bahwa dirinya adalah pakar jam tangan “atas penunjukan resmi” Pangeran Brunei dan didukung oleh miliarder teknologi Forrest Li. Bagi banyak orang, berinvestasi pada Khoo terasa seperti membeli tiket masuk ke klub elit yang sangat eksklusif.

Modus: Gelembung Harga dan Janji Palsu
Namun, investigasi mendalam yang dilakukan oleh Sui-Lee Wee mengungkap bahwa kejeniusan Khoo sebenarnya terletak pada kemampuannya memanipulasi nilai aset. Modus pertamanya adalah _The Overpricing Trap_.
Khoo meyakinkan investor bahwa mereka membeli arloji murah yang akan naik harganya, padahal sejak hari pertama, ia menjual jam tangan tersebut dengan harga yang sudah digelembungkan secara ekstrem—terkadang hingga delapan kali lipat dari harga pasar sebenarnya.

Modus kedua yang lebih berbahaya adalah janji _buy-back_ (pembelian kembali). Khoo menjanjikan akan membeli kembali jam tangan tersebut dengan harga lebih tinggi dalam jangka waktu tertentu. Investor merasa aman karena fisik jam tangan tersebut mereka pegang sendiri sebagai jaminan.

Padahal, inilah titik di mana skema ini mulai menyerupai pola Ponzi. Untuk membayar keuntungan investor lama yang ingin keluar, Khoo diduga menggunakan uang dari investor baru yang masuk. Selama ada “darah segar” dari investor baru, menara kepercayaan ini tetap berdiri tegak. Namun, ketika pandemi melanda dan aliran dana tersendat, janji itu pun menguap menjadi debu.

Kehancuran The WatchFund mulai tercium saat investor kesulitan menarik modal mereka. Jay Samathivathanachai, seorang klien yang awalnya sempat mencicipi profit kecil, mulai merasa ada yang tidak beres pada tahun 2022. Setiap kali ia ingin mencairkan investasinya, Khoo selalu punya seribu alasan; mulai dari pembeli yang mendadak mundur hingga kendala perjalanan akibat protes di Hong Kong.

Puncak kecurigaan terjadi saat beberapa investor melakukan penilaian independen terhadap jam tangan yang mereka genggam. Dr. Zubin Daruwalla, kawan masa kecil Khoo, terkejut luar biasa saat membawa jam tangan HYT miliknya ke pakar arloji independen.

Jam tangan yang ia beli dari Khoo seharga 150.000 Franc Swiss (sekitar Rp2,7 miliar) ternyata hanya dihargai 20.000 Franc Swiss di pasar terbuka. “Anda gila atau apa membayar harga setinggi itu?” tanya sang pakar saat itu.
Di titik inilah para investor sadar bahwa “investasi” mereka hanyalah besi tua yang dihargai terlalu mahal.

Pada tahun 2024, menara yang dibangun Khoo akhirnya runtuh total. Pengadilan Singapura memutuskan bahwa perusahaan Khoo telah melakukan pelanggaran kontrak dan diperintahkan untuk membeli kembali arloji investor senilai jutaan dolar. Tak lama berselang, Khoo resmi dinyatakan bangkrut setelah gagal membayar utang kepada salah satu kliennya sebesar $1,6 juta.

Kini, sosok yang dulu akrab dengan American Express Centurion dan sepatu Hermès itu dikabarkan telah meninggalkan Singapura. Ia mengaku merasa tidak aman dan mengklaim menjadi korban peretasan serta pelecehan. Namun, bagi para korbannya di Singapura dan Hong Kong, Khoo hanyalah seorang orator ulung yang menjual mimpi kosong. Sembilan laporan polisi telah diajukan, menuduh Khoo melakukan penipuan dengan skema mirip Ponzi yang licin.

Kisah Dominic Khoo bukan sekadar berita kriminal tentang penipuan investasi; ini adalah cermin bagi kita semua tentang betapa rapuhnya integritas ketika berhadapan dengan godaan kemewahan. Khoo membuktikan bahwa reputasi bisa dibangun melalui repetisi narasi di media dan pamer gaya hidup, namun tanpa pondasi kejujuran, reputasi itu hanyalah sebuah gelembung yang siap pecah kapan saja.

Bagi para investor, kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa jika sebuah tawaran investasi terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan, maka kemungkinan besar memang demikian.

Di dunia yang semakin terobsesi pada penampilan dan simbol status, Dominic Khoo adalah pelajaran berharga tentang batas tipis antara pesona selebritas dan realitas pahit penipuan. Menara kepercayaannya mungkin telah rata dengan tanah, namun puing-puingnya akan selalu menjadi peringatan bagi siapa saja yang tergiur oleh kilau emas yang tak punya nyawa.

SUMBER
Wee, S. L. (2026, April 8). He Got Rich Buying and Selling Luxury Watches. Was It a Ponzi Scheme?. _The New York Times_
George, B. (2024). _90 Days to Level Up Your Leadership. Wiley._ (Perspektif tentang pentingnya integritas dalam kepemimpinan korporat).

Exit mobile version